Di tengah dunia dewasa ini yang sering kali menilai seseorang dari penampilannya, pencitraan jadi sangat penting. Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar dalam kehidupan beragama adalah jadi asli, autentik, dan bukan hanya kelihatan saleh, melainkan sungguh-sungguh hidup dalam kasih dan kebenaran.
Yesus sangat keras terhadap orang-orang munafik yang beribadah dengan tampilan dan kata-kata indah, rapi hati mereka jauh dari Tuhan. Iman sejati itu bukan soal seberapa rajin kita hadir di tempat ibadah, melainkan seberapa dalam kasih itu mengubah cara kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan terpinggirkan.
Sikap pura-pura mungkin bisa menipu sesama, tapi tidak bisa menyentuh hati Allah. Yang Dia cari adalah ketulusan yang lahir dari kerendahan hati, bukan dari keinginan untuk dipuji. Orang yang rendah hati menyadari, bahwa semua kebaikan berasal dari Tuhan. Karena itu, ia tidak mencari sorotan, tapi melayani dengan tulus.
Marilah kita belajar menghayati iman bukan sebagai pencitraan kosong, melainkan sebagai suatu relasi yang hidup dengan Allah. Relasi yang mendorong kita untuk bertumbuh dalam cinta kasih dan kebaikan yang nyata. Sebab hanya iman yang disertai kasih, kerendahan hati, dan pelayanan tuluslah yang jadi terang sejati bagi dunia.
“Ya, Tuhan, jauhkan kami dari sikap munafik dan berpura-pura. Ajarilah kami menjadi murid-Mu yang sejati. Amin.”
Ziarah Batin

