Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tiada rotan, akar pun berguna.” (Peribahasa Bangsa)
Satu Set Kartu Ternyata Bisa Menjadi Kitab Suci
Pernahkah Anda mendengar tentang kisah unik ini di dalam hidupmu? Kisah seorang tentara, yang menggunakan “satu set kartu” yang dijadikannya sebagai sebuah kitab suci. Hal ini terjadi, karena ia tidak memiliki kitab suci. Kisah unik ini terjadi di masa peperangan di Eropa.
Inilah Kisah itu!
Inilah sebentuk pertanggungjawaban dari tentara kreatif itu, kala ia dituduh menghina rumah Tuhan di depan hakim agama atau yang lazim disebut sebagai pengadilan agama.
Inilah Rincian Kesaksiannya itu!
“Kartu As, mengingatkan saya, bahwa ‘Tuhan itu satu, Ia itu Esa.’
Angka Dua, mengingatkan saya, bahwa ada ‘Perjanjian Lama dan ada Perjanjian Baru.’
Angka Tiga, mengingatkan saya, pada ‘Bapak, Putera, dan Roh Kudus.’
Angka Empat, mengingatkan saya, pada keempat Penginjil: ‘Markus, Mates, Lukas, dan Yohanes.’
Angka Lima, mengingatkan saya, pada ‘kelima wanita bijak dan lima wanita bodoh.’
Angka Enam, mengingatkan saya, bahwa Allah ‘menciptakan Surga dan Bumi dalam enam hari.’
Angka Tujuh, mengingatkan saya, bahwa ‘Allah pun beristirahat, setelah Ia menciptakan langit dan bumi.’
Angka Delapan, mengingatkan saya, pada ‘delapan’ orang yang diselamatkan kala air bah menerjang: ‘Nuh dan istrinya, tiga putra dan istri-istri mereka.’
Angka Sembilan, mengingatkan saya, pada ‘kesembilan orang kusta yang tidak tahu berterima kasih.’
Angka Sepuluh, mengingatkan saya, pada ‘Sepuluh Perintah Tuhan.’
Kartu King, mengingatkan saya, bahwa Ia adalah ‘Raja, di Surga, Allah Maha Kuasa.’
Kartu Queen, mengingatkan saya, pada ‘Bunda Maria, si Ratu Surga.’
Kartu Jack, mengingatkan saya, pada si ‘Jahat, Iblis Laknat.’
Ada 365 kotak pada kulit kartu, itulah ‘ke-365 hari dalam setahun.’
Ada 52 kartu dalam satu set, mengingatkan saya, bahwa ada ’52 Minggu dalam setahun.’
Ada 13 jenis permainan dalam satu set, mengingatkan saya, bahwa ada ’13 Minggu dalam setiap caturwulan.’
Ada 4 warna kartu, mengingatkan saya, bahwa terdapat ‘4 Minggu dalam sebulan.’
Ada 12 kartu bergambar, mengingatkan saya, bahwa ada ’12 bulan dalam setahun.’
Setelah mendengar dengan saksama penjelasan yang sangat detail, brilian, dan inspiratif itu, maka termangu dan terjagalah si Tuan hakim agama itu.
Tentara inspiratif itu mengakhiri bentuk pertanggungjawabannya sambil berkata, “Tuan, bukankah kartu ini, bukan saja sebagai Kitab Suci dan Al-Manak, namun juga sebagai sebuah buku doa?”
Dalam ketermanguannya, Hakim agama itu berujar, “Sungguh, Tentara bijak ini tidak bersalah!”
Dari Sebuah Siaran Radio
(1500 Cerita Bermakna)
Jangan Terjebak dalam Kungkungan Isi Kepala
Ternyata agama dan keyakinan itu, bukanlah sekadar setumpuk tata aturan kaku (dogmatis), yang sering kali justru menyesatkan dan menyempitkan pemahaman orang dalam beragama?
Agama kita hanyalah sebuah institusi di dunia ini. Selebihnya, bukankah agama-agama itu justru sebagai sarana pembebas kita dari belenggu kungkungan dunia?
Bukanlah ia telah menjadikan kita agar kian mencintai kemanusiaan semesta? Hal itu pun telah berwujud dalam Diri dan Rupa, Yesus Kristus, Allah yang menjelma manusia?
Refleksi
“Semoga hidup keagamaan kita, tidaklah seperti sebuah kubur batu, yang di luarnya dilabur putih, dan tampak bersih; namun di dalamnya penuh dengan tulang belulang?”
(Mateus 23 : 27)
“Inermis est Veritatis, Arma Veritatis Veritas”
“Kebenaran tidak bersenjata, Senjata Kebenaran adalah Kebenaran”
(Semboyan Bangsa Romawi Kuno)
Kediri, 3 Maret 2026

