“Jangan mengeritik sesamamu, bila perilakumu lebih buruk dari mereka.” -Inno Ngutra
Tidak sekadar menohok, bahkan nasihat bijak Mgr Inno Ngutra, Pr itu seperti menggugat jiwa ini.
Bagaimana tidak. Jujur, saya biasa mengomentari di hati, umat yang terlambat ke Gereja, berpakaian kurang pantas dan seenaknya. Misalnya bersandal jepit, pakaian minim dan seksi, bercelana olahraga, dan sebagainya. Padahal kita hendak menghadap Tuhan dan jadi mempelai-Nya. Tapi kita abai, tidak menghomati dan mengasihi-Nya.
Mereka kurang bisa menempatkan diri, begitu pula dengan cara saya berdoa, ternyata hanya di mulut. Bahkan saya sering kali mencari pembenaran diri dan merasa suci!
Tidak sekadar diingatkan, tapi saya disadarkan untuk berubah guna memperbaiki hati ini. Bahwa Ekaristi Kudus itu bukan peristiwa ritual biasa, melainkan Kristus sungguh hadir! Melalui konsekrasi, roti dan anggur benar-benar berubah jadi Tubuh dan Darah-Nya.
Kini, setiap kali mengikuti Misa, saya selalu menyiapkan hati ini. Saya membiasakan diri datang ke Gereja lebih awal. Dari semula yang asyik bermain hp atau ngobrol, kini saya berhening diri membangun intimasi dengan Allah.
Semula konsentrasi saya mudah terganggu dan terpecah, ketika anak-anak berisik, bercanda, dan berlari-larian itu tanpa dicegah-ingatkan orangtua yang kurang peduli, padahal mengganggu umat yang lain. Tapi lewat berkonsentrasi penuh dan fokus ke Altar, saya tidak terusik oleh berisik anak-anak.
Senantiasa memohon rahmat Allah agar saya dianugerahi semangat untuk perbarui diri dan memaknai hidup ini. Makin sabar, rendah hati, bijaksana, dan ikhlas.
Berkah dalem,
Mas Redjo

