Allah adalah Bapa yang penuh belas kasih. Dalam Kitab Yehezkiel ditegaskan, bahwa Allah tidak menghendaki kematian orang fasik, tapi agar ia bertobat dan hidup. Pertobatan sejati itu bukan sekadar penyesalan di mulut, melainkan terutama perubahan nyata dalam tindakan. Hal ini jadi undangan bagi kita untuk selalu membuka diri pada pembaruan hidup.
Yesus menegaskan, bahwa kesalehan kita harus melebihi ahli Taurat dan orang Farisi. Bukan hanya membunuh yang salah, melainkan juga menyimpan kebencian, berkata kasar, atau menolak berdamai. Bahkan, sebelum mempersembahkan kurban di altar, kita diminta lebih dahulu berdamai dengan sesama. Artinya, ibadah sejati lahir dari hati yang bersih dan relasi yang damai.
Di tengah dunia yang penuh konflik, prasangka, dan dendam, kita diajak untuk jadi pribadi yang membawa pengampunan. Kita wajib bertanya, apakah aku sedang menyimpan luka dengan orang lain? Maukah aku memulai langkah untuk berdamai? Sebab, Tuhan lebih berkenan pada hati yang mengasihi daripada ibadah yang hanya formalitas.
“Ya, Tuhan, ajarilah kami untuk berdamai dengan sesama agar ibadah kami berkenan di hadapan-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

