Ibu Marta, seorang janda sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun sebagai koster di Gereja Parokinya. Gajinya setiap bulan jauh lebih kecil daripada gaji pegawai negeri yang paling rendah. Sementara itu ia memiliki anak sulung yang sedang kuliah dan adiknya yang masih di bangku SMA.
Anaknya yang mahasiswa sedang memerlukan uang untuk suatu kegiatan akademik yang penting sekali. Namun Ibu Marta tidak memiliki sama sekali jumlah uang yang diperlukan anaknya. Ia bekerja seperti biasa dan terus berdoa di Gereja, sambil menyambut bermacam-macam umat yang datang berdoa. Ada seorang tamu dari luar wilayah, yang setelah berdoa, memberikan dia sebuah amplop berisi uang. Katanya, Novenanya terkabulkan dan orang pertama yang ia jumpai di gereja layak mendapatkan tanda kasih darinya yang sangat tulus. Uang itu jumlahnya pas dengan yang dibutuhkan anaknya di universitas.
Di dalam kenyataan, setengah doa-doa kita adalah doa permohonan. Kita meminta dan memohon, karena kita percaya, bahwa Tuhan Mahamurah. Tidak mungkin kita meminta terus tanpa henti kepada orang yang tidak mempunyai apa-apa. Karena Ia sangat berlimpah, maka kita memohon kepada-Nya tanpa henti. Jadi, Tuhan sesungguhnya adalah penolong kita. Melalui permintaan dan permohonan dalam doa-doa, Tuhan memberikan kita sesuai kehendak-Nya.
Kebutuhan manusia tidak akan habis, ketika ia masih berada di dunia. Pada saat-saat keadaan kita tidak terdesak atau bukan dalam bahaya, tampaknya doa-doa kita tidak berisi permohonan-permohonan. Mungkin juga doa-doa kita setiap hari tidak spesifik mengungkapkan permintaan atau permohonan, karena hidup kita mengalir saja dan normal. Jika dilihat secara objektif, hidup kita sendiri merupakan anugerah untuk dijalani siang dan malam. Kita justru perlu bimbingan dan perlindungan Tuhan.
Kita tentunya menyatakan rasa syukur atas anugerah itu. Tapi sebenarnya di dalam doa syukur itu, tersirat permohonan supaya hidup kita dijauhkan dari segala pengaruh jahat dan ancaman musuh. Kita berharap supaya iman dan pengharapan kita akan penyelenggaraan Tuhan tetap kuat.
Kitab Ester dalam Perjanjian Lama mengisahkan, betapa bahaya maut sedang mengancam hidupnya. Ratu Ester sangat yakin, bahwa hanya pertolongan Tuhan yang ia andalkan. Meskipun merasa sangat sendirian dan tidak ada seorang penolong di sampingnya, ia sungguh yakin, bahwa Tuhan adalah penolongnya yang utama.
Tuhan tidak tega menolak anak-anak-Nya minta tolong dalam iman yang teguh dan pengharapan yang kuat. Terlebih-lebih di dalam kesulitan dan kesesakan hidup, harapan kita satu-satunya ialah Tuhan yang Mahakuasa.
“Ya, Allah, semoga kuasa-Mu menyertai kami di dalam kesulitan dan kesesakan hidup kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

