Ketika para pemuka, pemimpin, dan cendekia Yahudi menekan Yesus, supaya memberikan mereka tanda atas semua yang diperbuat-Nya, Yesus tidak sudi memberikan. Ia berbalik menanggapi mereka dengan sebuah cara pembungkaman. Ia berkata dalam berbagai kesempatan dan dalam aneka perkataan, bahwa Ia sendiri adalah tanda Allah. Karena itu mereka tidak perlu lagi pembuktian dari Surga selain diri Yesus yang sedang berbicara dengan mereka.
Kitab Nabi Yunus memperlihatkan, kalau orang-orang Niniwe dan kotanya yang terkenal berdosa, mengenali peringatan Allah, ketika Yunus datang dan berbicara kepada mereka. Tuhan menghadirkan tanda-Nya melalui Babi Yunus. Kota itu, berikut pemimpin dan penduduknya mendengarkan Nabi, lalu hasilnya ialah mereka semua bertobat. Pada kejadian lain, Ratu dari Syeba yang tidak seagama dengan Yahudi mengenali kebijaksanaan Allah di dalam Raja Salomo. Hal ini menunjukkan, bahwa Yunus dan Salomo adalah tanda dari Allah. Tanda pada Yunus berisi pesan kerahiman Allah bagi orang-orang Niniwe. Tanda pada Salomo berisi pesan sukacita kebijaksanaan kepada Ratu dan seluruh dunia.
Jika sikap manusia ialah menerima, mengakui, dan menyanggupi pesan dari Allah melalui tanda-tanda tersebut, semuanya jadi mudah dan Tuhan memberkatinya dengan karunia melimpah. Manusia memperoleh sukacita, damai, kebahagiaan, dan keselamatan. Persoalannya ialah, kalau manusia tidak mendengar, menolak, dan tidak menyanggupi peringatan itu. Jelas akibatnya ialah mereka tidak mendapatkan berkat karunia Allah. Sikap para pemuka, pemimpin, dan cendekia Yahudi itu justru lebih keras, yaitu mereka tidak menerima dan mengakui Tuhan Yesus yang lebih daripada Yunus dan Salomo. Ini adalah kesalahan besar mereka, maka Tuhan yang langsung memperingatkan mereka!
Kita mengalami kehadiran Tuhan langsung melalui firman-Nya yang diwartakan. Firman itu difasilitasi oleh Gereja sebagai terang dan sumber kehidupan kita. Di dalam Ekaristi, firman itu berubah jadi tubuh yang kita terima dan santap. Di dalam sakramen tobat, firman itu jadi pesan kerahiman yang mengampuni dan menyelamatkan kita dari dosa. Di dalam homili, firman itu jadi siraman rohani yang menyegarkan dahaga jiwa kita. Di dalam berkat Pastor, firman itu jadi kekuatan rohani yang menguatkan hidup rohani kita. Di dalam lagu-lagu rohani, firman itu jadi sentuhan lembut yang membuat diri kita tenang dan nyaman. Di dalam nasihat orangtua dan orang dewasa, firman itu melindungi kita. Jadi di dalam seluruh hidup kita, firman Tuhan menjelma. Kita hanya perlu menerima dan mengakui, bahwa ada Tuhan, lalu menyanggupi kehendak-Nya.
“Bapa yang Mahabaik, penuhilah hati kami dengan kebijaksanaan dan kasih-Mu, supaya selalu berpihak kepada-Mu. Biarkanlah kami selalu mengakui-Mu dengan segenap hati kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

