Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Keagungan Guru terhebat, justru akan terekspresi lewat tuturannya”
(Didaktika Kebijaksanan Hidup).
Kita semua pernah jadi seorang murid dari salah seorang Guru di masa sekolah. Tentu, setiap kita juga memiliki kenangan manis tertentu terhadap seorang Guru, bukan? Entah dari gaya kepemimpinan dan suri teladannya, cara mengajarnya, berbusana, dan ada satu hal terpenting ialah dari cara, bagaimana Guru itu bertutur.
Mari cermati dengan saksama puisi indah berikut ini!
Kata Ajaib sang Guru
Guru sejati bermulut emas bak Nabi
Tuturan guru berhati emas melahirkan kata-kata emas lagi
Guru sejati akan melahirkan kata-kata ajaib
Kata yang membangun asa sang murid
Kata yang menyembuhkan luka-luka batin
Ternyata
Sering ada murid terbunuh
Karena kata-kata sadis sang Guru
(Pada Sepotong Catatan)
Sang Kebijaksaan pun telah Menuturkan Kearifan ini!
“Bahasamu menujukkan, siapakah kamu. Tuturanmu akan menunjukkan, apakah karakter sejatimu. Kata-katamu dapat berubah tajam bagaikan sebilah pedang terhunus. Bahkan tindakan sadistis ini pun akan menjadi hal yang paling buruk, jika diperankan oleh seorang Guru!”
Dalam konteks kearifan bertutur dari sang Guru, fakta hidup telah membuktikannya lewat realitas hidup ini. Mengapa ada Guru yang tetap dan selalu jadi idola, pujaan, dan kesayangan dari seorang murid? Hal ini ternyata antara lain, disebabkan oleh kearifan Guru itu di kala ia bertutur. Mengapa pula ada Guru yang justru ditolak dan dijauhkan oleh muridnya? Bukankah jarak jauh yang terciptakan itu sebagai sebentuk rasa tidak suka, terusik, dan rasa tidak simpatinya seorang murid kepada Guru yang antara lain, juga karena cara dan gaya bertutur dari Guru yang terkesan kasar, penuh cercaan, menghina, mengusir, mendendam, dan bahkan mengolok murid.
Luka-luka dan rasa sakit itu itu pun bahkan dapat dibawa mati. Jika justru demikian yang terjadi, maka sungguh, alangkah kejinya sikap hidup Guru itu. Kini yakinlah kita, bahwa ternyata, kata-kata juga dapat jadi setajam mata pedang. Seperti juga tuturan berkias dari Kakek dan Nenek kita, bahwa “Mulutmu itu adalah harimaumu!” Seekor harimau yang Guru bawa dari dapur keluarganya, dari balai-balai adat dan budayanya, juga sebagai karakter dasarnya.
Bona Culina, Bona Disciplina
Ungkapan Latin “bona culina, bona disciplina” yang bermakna “dari dapur yang baik, akan melahirkan kedisiplinan,” mau membuktikan, bahwa betapa vitalnya aspek pendidikan dan keteladanan hidup baik yang akan anak bawa dari rumah. Jadi, secara filosofis dapat dikatakan, bahwa dapur itu adalah lembaga sekolah, tempat murid memasak aneka disiplin ilmu, dan salah satunya adalah disiplin dalam hal kearifan dalam bertutur.
Dalam konteks dan pendekatan ini, maka sungguh penting serta vitalnya kehadiran seorang Guru yang arif dan bijaksana, termasuk kearifan dalam hal bertutur dan berkata-kata. Bukankah di dunia ini pernah mempunyai tokoh-tokok agung searif:
- Mahatma Gandhi: “Hiduplah seolah-olah engkau mati besok. Belajarlah seolah-olah engkau hidup selamanya.”
- Nelson Mandela: “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”
- Santa Teresa: “Jika kamu menghakimi orang lain, kamu tidak punya waktu untuk mencintai mereka.”
- Winston Churchill: “Sukses beranjak dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme.”
Lewat ucapan-ucapan yang berefek dasyat ini, mereka telah membantu menenangkan dunia dan memotivasi banyak orang.
Refleksi
- Sungguh, berbahagialah orang yang sanggup mendamaikan dunia yang tercabik-cabik ini lewat tuturan dan kearifan hidupnya!
- “Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tapi siapa yang menahan lidahnya, bijaksanalah ia”
(Amsal 10: 19)
Kediri, 25 Februari 2026

