Calon Mantu – 13 | Oleh Mas Redjo
Semula saya mencoba bersikap tenang, tapi entah kenapa saya terpengaruh juga oleh kata-kata In. Ayah Dini tersinggung, karena semangat kewirausahaan. Padahal Ayah Dini terpelajar, dan konsultan HRD berpengalaman yang berwawasan luas.
Anehnya, ketika saya bermaksud melupakan persoalan Bagas dan Dini, muncul wajah Wen di antara mereka. Bisa jadi saya lebih condong kepada Wen ketimbang ke Dini, karena saya egois?
Saya terperangah. Tidak seharusnya saya menjodohkan Bagas dengan Wen. Apalagi hubungan Bagas dan Dini tengah renggang, mungkin juga di ambang kehancuran.
Saya menghela nafas panjang. Bisa jadi saya ingin menjodohkan Bagas dan Wen itu sekadar ambisi agar kelak kehidupan mereka makin baik. Padahal yang baik bagi saya belum tentu baik untuk mereka.
Saya ingin menjodohkan Bagas dengan Wen, karena saya mempunyai mimpi ingin membukakan usaha sejenis untuk dikelola mereka, tanpa melibatkan usaha orangtua Wen. Dua kekuatan yang bersinergi akan jadi pondasi usaha yang kokoh dan menghasilkan kekuatan yang lebih besar.
Kini, muncul Dini yang tengah bermasalah dengan Bagas. Padahal Bagas juga tidak pernah bercerita soal Dini atau teman gadisnya yang beberapa kali main ke rumah. Karena Bagas aktivis dan supel.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 13 | Hubungan Bagas & Dini Pun Retak

