Sering kali kita bertanya dalam hati: kalau Tuhan itu baik, mengapa Ia membiarkan manusia digodai? Mengapa Ia tidak langsung menghentikan Iblis sejak awal?
Di Taman Eden, Tuhan melihat, ketika manusia pertama digoda. Di padang gurun, Tuhan juga melihat ketika Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, dicobai berulang kali. Tuhan melihat, Ia tidak lalai. Ia tahu. Ia mengizinkan. Tapi izin Tuhan bukanlah tanda Ia setuju dengan kejahatan. Izin Tuhan selalu berada dalam rencana kasih dan keselamatan.
Tuhan mengizinkan godaan, karena Ia menciptakan manusia dengan kebebasan. Cinta tanpa kebebasan bukanlah cinta sejati. Kesetiaan tanpa pilihan bukanlah kesetiaan. Bila manusia tidak pernah bisa memilih yang salah, maka memilih yang benar pun tidak lagi bermakna. Di hadapan godaan, manusia sebenarnya sedang berdiri di hadapan kesempatan: apakah ia mau percaya kepada Tuhan, atau percaya pada suara lain. Di situlah iman jadi nyata, bukan sekadar kata-kata.
Kisah di Eden menunjukkan betapa manusia bisa jatuh. Ketika mendengarkan suara Iblis, manusia memilih jalan yang menjauh dari Tuhan. Bahkan di saat jatuh itu, Tuhan tidak pergi. Ia mencari manusia, memanggil mereka, dan membuka jalan keselamatan. Jadi Tuhan tidak pernah mengizinkan godaan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk menuntun manusia melihat betapa ia membutuhkan Tuhan. Dosa itu melukai, tapi kesadaran akan dosa membuka pintu pertobatan.
Kita melihat Yesus di padang gurun. Ia digodai bukan sekali, melainkan berkali-kali. Iblis mencoba menggoyahkan-Nya melalui lapar, kuasa, dan kemuliaan dunia. Tapi Yesus tidak jatuh. Ia menjawab dengan Sabda Tuhan, dengan kepercayaan penuh kepada Bapa. Di sinilah ada terang pengharapan: godaan tidak harus berakhir dengan dosa. Dalam Yesus, kita belajar, bahwa manusia bisa berdiri teguh. Ia menunjukkan, bahwa kesetiaan itu mungkin, bahwa rahmat Tuhan cukup kuat untuk menolong kita.
Mungkin dalam hidup kita juga ada ‘padang gurun’: godaan untuk putus asa, marah, mencari jalan pintas, dan godaan untuk hidup jauh dari Tuhan. Jangan langsung berpikir Tuhan meninggalkan kita. Justru sebaliknya. Tuhan melihat menyertai, dan Ia mengizinkan pergulatan itu agar iman kita dimurnikan, hati kita belajar kembali bersandar pada-Nya.
Maka jangan takut terhadap godaan. Takutlah, bila kita berhenti kembali kepada Tuhan. Bila jatuh, bangkitlah melalui pertobatan. Bila kuat, bersyukurlah atas rahmat-Nya. Sebab dalam setiap pergulatan, Tuhan sedang bekerja membentuk hati kita. Ia tidak pernah meninggalkan manusia di dalam pencobaan. Ia justru membuka jalan pulang. Di jalan pulang itu, kita menemukan, bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada godaan apa pun di dunia ini.
“Ya, Bapa di Surga, penuhilah kami dengan kuasa-Mu, sehingga kami mampu mengatasi godaan-godaan di dalam hidup kami dan memilih jalan untuk kembali kepada-Mu. Amin.”
…
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

