Ada satu tempat: ruang untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di tempat itu ada seorang pribadi yang menjalani hidup dalam keheningan.
Hidup ini tidak pernah berhenti. Ada petunjuk waktu yang terus-menerus berputar: pagi – siang – malam.
Dimaknai di setiap putaran waktu, antara ‘Kronos’ dan ada ‘Kairos’.
Waktu ‘Kronos’: detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun. Waktu ‘Kairos’ adalah waktunya Tuhan.
Tuhan ada di mana? Dia ada di mana-mana, dalam setiap peristiwa harian. Dia ditemukan di alam, tulisan-tulisan inspirasi perjumpaan, peristiwa yang terjadi, dan misteri kehidupan yang disadari serta diberi makna.
Tuhan dan seorang pribadi: bertemu di satu ruang. Ruang berdoa, bermenung, berefleksi, mendengarkan kedalaman batin, mengenali jatidiri, dan ruang berproses bertumbuh dewasa: dalam iman dan kepribadian.
Di ruang berproses berhenti pada titik ini: “Solo Dios Basta.” Ungkapan dari Santa Teresa Avila, yang artinya “God alone is enough,” Tuhan saja sudah cukup.
Bagaimana dengan mereka yang terus-menerus berproses dan tidak pernah berhenti berkata ‘cukup’? Jawabannya: masih ada banyak keinginan yang belum terwujud dan dirinya belum puas. Aktualisasi diri tetap dicari dan belum selesai.
Kembali ke ruang berproses: duduk dalam hening-bening. Oh, ternyata, aku belum selesai. ‘Kronos’ dan ‘Kairos’ belum berhenti, mengikuti setiap tarikan nafas seorang pribadi yang masih menjalani kehidupan. Hidup dalam kesehatan yang sehat walafiat atau sakit. Hidup yang masih kuat atau ringkih. Hidup yang tanpa batas atau serba terbatas. Hidup yang tidak bisa dibatasi atau hidup yang serba dibatasi.
Di ruang berproses: hidup itu tidak boleh kehilangan makna. Ketika hidup itu kehilangan makna berarti kita ini hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Meluncur saja mengikuti ‘Kronos’, tidak pernah merasakan ‘Kairos’.
Rm. Petrus Santoso SCJ

