Ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku! (Luk 5: 27).
Penginjil Lukas menampilkan Yesus yang memanggil Lewi, seorang pemungut cukai, untuk mengikuti-Nya. Kisah ini mengingatkan kita, bahwa pertobatan bukanlah terutama usaha manusia untuk jadi layak, melainkan tanggapan atas panggilan kasih Kristus yang lebih dahulu datang menghampiri kita.
Seperti Lewi, kita mungkin masih terikat pada ‘meja cukai’ kita masing-masing: dosa, ego, atau kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Tapi Yesus tidak memandang masa lalu, melainkan melihat hati. Ia bersabda, “Ikutlah Aku!” Sebuah undangan untuk meninggalkan keterikatan demi mengalami hidup yang baru.
Lewi menanggapi panggilan itu dengan sukacita. Ia tidak hanya mengikuti Yesus, tapi juga mengundang orang lain duduk bersama dalam perjamuan dengan Sang Juru Selamat. Ini jadi pengingat, bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada perubahan pribadi, melainkan meluas dalam kesaksian dan pelayanan kepada sesama.
Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk bangkit, membuka hati terhadap panggilan Kristus, membiarkan diri dipulihkan, dan berjalan bersama Dia Sang Penebus yang datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa agar mengalami hidup yang baru.
Fr. Selestinus Maria, CSE
Sabtu, 21 Februari 2026
Yes 58: 9-14 Mzm 86: 1-6 Luk 5: 27-32
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

