Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Negarawan ideal adalah ia yang memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan untuk memimpin dengan bijaksana.”
(Plato)
Philosopher King / Raja Filsuf
Negarawan dan Politisi
“Negarawan adalah seorang yang bervisi ke depan untuk kebesaran bangsa dan negara yang jauh melampaui usianya. Kekuasaan hanyalah wahana mewujudkan cita-cita mulia politiknya demi tegaknya keadilan dan kesejahteraan bersama.”
Sebaliknya politisi “seorang yang pragmatis, dan umumnya tunavisi, tapi syahwatnya pada kekuasaan demikian dasyat. Dia mencari kenikmatan duniawi, nyaris tidak peduli pada keadilan dan kesejahteraan umum.” Demikian renungan Buya Ahmad Syafi’i Maarif, “Parpol dan Negarawan”
(Kompas, 3/4/2013) yang dikutip kembali oleh Eduard Lukman, dalam kolom Opini, Kompas, Surat kepada Redaksi, Kamis, (19/2/2026), berjudul “Negarawan.”
Konsep “Negarawan Ideal” Menurut Plato dan Machiavelli
Filsuf Plato, lewat konsep “Philosopher – King” / Raja Filsuf, ia memaknakan, bahwa negarawan ideal ialah ia yang memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan memimpin dengan bijaksana. Selain itu, ia pun adalah seorang yang mempunyai pengetahuan tentang kebaikan, kebenaran, dan mampu mengarahkan masyarakat menuju kebaikan bersama.
Sedangkan filsuf Machiavelli, berpandangan lebih pragmatis dan realistis. Dalam “II Principle” ia mendeskripsikan, bahwa seorang pemimpin ideal sebagai seorang yang efektif, berani, dan mampu melakukan apa pun demi mencapai tujuan negara, bahkan jika ia berani melanggar moralitas konvensional. Prinsipnya, bahwa ia akan berfokus pada kekuasaan dan stabilitas negara dan bukan pada kebaikan dan kebenaran absolut.
Perbedaan yang dapat Menyeimbangkan
Perbedaan pandangan dari kedua figur filsuf ini, Plato yang lebih berfokus pada prinsip ‘idealisme dan etika,’ sedangkan Machiavelli yang berfokus pada prinsip ‘pragmatis dan realistis,’ justru mau menggambarkan, bahwa aspek pendekatan keduanya yang berbeda, dalam memahami suatu kepemimpinan. Yang satu menekankan pada prinsip moralitas dan keadilan, sedangkan yang lainnya, pada aspek efektivitas dan kekuasaan.
Jika kedua pandangan ini digabungkan, maka akan menciptakan model kepemimpinan yang seimbang, efektif, dan beretika.
Refleksi
- Untuk mencapai sebuah idealisme lewat model kepemimpinan negarawan ideal, maka, kita dapat menggabungkan antara prinsip si Plato yang kokoh kuat, dengan prinsip si Machiavelli yang fleksibel dan adaptif.
- Marilah kita menggaungkan prinsip dasar dari hidup bernegara. Apakah tujuan sentral kita hidup bernegara dan berbangsa? Bukankah demi kesejahteraan rakyat?
“Salus Populi Suprema Lex”
“Kesejahteraan Rakyat Merupakan Hukum Tertinggi”
(Cicero)
Kediri, 21 Februari 2026

