“Ambillah bibit cinta dari pikiran yang jernih untuk disemai di ladang hati agar kelak panenan kasih-Nya berkelimpahan.” -Mas Redjo
Menanam di musim semi itu umum, tapi menanam di ladang hati setiap keluarga untuk saling mengasihi itu anugerah Allah yang luar biasa.
Ketika memutuskan berkeluarga itu diibaratkan kita menanam pohon cinta kasih. Hasil panenan pohon itu sepenuhnya bergantung dari cara kita merawatnya dengan baik.
Faktanya, diakui atau tidak, banyak di antara kita yang menjalani hidup berkeluarga itu sekadar mengikuti aliran air dan seadanya. Tanpa perencanaan yang matang dan tidak mempunyai tujuan jelas. Sehingga hasilnya biasa saja, jauh dari harapan, dan banyak keluarga yang kecewa serta menyesalinya.
Berbeda hasilnya itu bagi mereka yang menjalani hidup berumah tangga, karena direncanakan baik dan tujuannya jelas: rumah tangga yang damai sejahtera dan bahagia.
Dengan perencanaan yang matang itu memudahkan kita melangkah dengan optimis dan percaya diri dalam menghadapi tantangan maupun halangan, serta langkah untuk mengantisipasinya. Semua itu demi masa depan keluarga yang lebih baik.
Bagi keluarga yang hidupnya biasa saja, kini di masa Prapaskah ini kita diingatkan untuk berefleksi dan membenahi hidup keimanan dalam keluarga ke arah yang baik dan benar. Tujuan dan makna hidup berumah tangga itu jadi makin jelas dan terang.
Tidak ada kata terlambat atau sulit untuk menata kembali tujuan hidup berkeluarga, karena yang sulit itu kita malas melakukannya dan cinta di hati yang memudar.
Hari Rabu Abu ini kita diingatkan Nabi Yoel: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati” (Yl. 2: 12) untuk kembali ke tujuan dan hakikat pernikahan suci, sekaligus sebagai nilai pertanggungjawaban kita kepada Allah.
Mari kita bangkit dalam semangat kerendahan hati untuk memanggul salib bersama-Nya. Kita berjuang melakukan semua itu demi keluarga tercinta. Hidup damai sejahtera dan bahagia, karena kita adalah satu “Keluarga dalam Kristus.”
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

