Di dalam kitab Perjanjian Baru, Yesus Kristus mengajarkan kita untuk kuat dalam menghadapi ujian. Pengalaman ujian itu sering disamakan dengan cobaan. Maksudnya mencobai seseorang, apakah mampu melewati cobaan itu atau tidak. Misalnya di dalam Injil Matius 26: 41 yang sama dengan Markus 14: 38, dan Lukas 22: 40, Yesus mengingatkan kita untuk selalu kuat dalam doa dan berwaspada agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Daging atau tubuh kita lemah, sehingga gampang jadi jalan masuk bagi musuh yang mencobai.
Tuhan sendiri juga mengingatkan umat-Nya di dalam Perjanjian Lama agar mereka kuat terhadap godaan, cobaan, dan ujian hidup. Ketika Musa berhadapan dengan Firaun di Mesir, ia benar-benar di dalam ujian berat. Tapi ia patuh pada tuntunan dan perintah Tuhan. Dengan berpegang pada prinsip, bahwa Tuhan mengajarkan dan menguatkan kita. Jika ada anggapan dan keyakinan di antara kita, bahwa Tuhan mencobai dan menggodai kita, sehingga itu semua dianggap saja sebagai ujian dalam hidup, hal itu jelas tidak mungkin. Bagaimana Ia menguatkan kita, Ia juga mencobai apa yang Ia sendiri tetapkan, kuatkan, dan lindungi?
Oleh karena itu Santo Yakobus menegaskan, bahwa tidak mungkin Tuhan mencobai kita, anak-anak kekasihnya. Tuhan tidak mempunyai sistem bermain seperti siapa pun makhluk manusia dan makhluk roh lainnya yang mencoba-cobai, menggoda-godai, atau memperdaya-dayai pihak lain. Pemimpin penggoda dan penyoba ialah setan. Pengaruh setan ini memprioritaskan kerjanya pada tingkah laku manusia yang bertentangan dengan jalan Tuhan. Karena manusia mempunyai kebebasan, ia bisa juga memilih untuk condong pada pengaruh setan. Jadi manusia dicobai dan digodai oleh keinginannya sendiri yang sudah dikuasai oleh si jahat.
Bilamana kita tahu, bahwa kita berada di dalam cobaan? Peristiwa yang dikisahkan di dalam Injil ini menggambarkan suatu situasi umum orang-orang berada di dalam cobaan. Situasi itu ialah, ketika pikiran dan hati kita mulai mengerti dan menganggap, bahwa Tuhan jauh atau tidak berada bersama kita. Kekhawatiran atau keprihatinan, bahwa nasib kita bakal di dalam kesulitan, karena di sekeliling kita ada begitu banyak tantangan, kesulitan, dan ancaman. Bahkan kita sangat dihantui oleh ketidakmampuan sendiri untuk menghadapi semua itu. Rasa tidak percaya pada diri, anggapan, bahwa di sekeliling ada banyak ancaman, dan pandangan bahwa Tuhan jauh, merupakan keadaan pencobaan yang kita hadapi di dalam hidup ini. Maka nasihatnya ialah: kita mesti kuat!
“Ya, Allah yang Mahakuasa, penuhilah diri kami dengan semangat iman yang berani dan kuat untuk menghadapi segala cobaan dan ujian hidup ini. Amin.“
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

