Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kami hadir di sini supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di mana pun.”
(Arifah, Menteri PPPA)
Sepotong Refleksi dari Kahlil Gibran tentang “Ibu dan Anak”
Anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra-putri sang Hidup yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu
Berilah kasih sayangmu,
tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka ada
alam pikirannya sendiri.
(Kahlil Gibran)
Sebuah pesawat kertas berwarna merah tergeletak di salah satu meja ruang kelas IV Sekolah Dasar Rutojawa, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kertas lipat itu kenangan terakhir yang ditinggalkan YBS (10), sehari sebelum anak tersebut memutuskan untuk mengakhiri sendiri hidupnya.
Lipatan kertas itu tampak sederhana, tapi menyimpan pesan tentang beban berat yang tak tertanggungkan dari YBS. Pesawat kertas merah yang bagian ujungnya agak sobek menjadi saksi bisu atas kepergian YBS. Demikian tulis Sonya Hellen Sinombor soal Perlindungan Anak, yang berjudul, “Pesawat Kertas Merah, Kenangan Terakhir YBS, Kompas, Senin, (16/2/2026).
Jangan Terjadi Lagi
Menteri PPPA yang akrab disapa Arifah menyampaikan belasungkawah mendalam atas kepergian YBS dan memberikan dukungan kepada keluarga untuk melanjutkan kehidupan.
“Kami hadir di sini supaya kejadian seperti ini, tidak terjadi lagi di mana pun,” ujar Arifah. Sebab secara psikologis, ada anak yang mengalami depresi, tapi mampu menyembunyikannya di balik senyuman dan aktivitas normal harian. “Inilah puncak dari apa yang dia rasakan,” ujar Arifah.
Mari ‘Kita’ Belajar dari Pengalaman Ini
Kata ‘kita’ yang dimaksudkan di sini adalah semua orang dewasa yang bertanggung jawab kepada anak-anak yang memang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Kita adalah para orangtua, pendidik, tokoh agama, dan badan pemerintah.
Sang penyair Kahlil Gibran, merefleksikan lewat puisinya, bahwa anak itu adalah milik dari sang Hidup. Tapi kita wajib juga memberikan perhatian dan kasih sayang, tapi jangan sodorkan bentuk pikiran kita sebab anak-anak pun memilki alam serta pikirannya sendiri.
Untuk itu, kepada semua pihak yang berada di dalam sebuah lingkup masyarakat, bahwa mereka perlu bahu membahu untuk mencari aneka cara terbaik demi mengatasi terulangnya kejadian yang mengharukan hati seperti ini. Maka, sungguh tepat ucapan sang Menteri PPPA, bahwa “Kami hadir di sini supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di mana pun.”
Refleksi
- Sebuah “pesawat kertas berwarna merah” ciptaan YBS adalah simbol sebagai warisan tentang kerapuhan anak manusia. Ia tanpa sengaja, mau mengatakan kepada dunia, bahwa anak-anak itu masih sangat rapuh, dan tak berdaya hampir dalam segala aspek. Untuk itu, mohon agar sudi didengarkan kerinduan nurani anak-anak. Kemiskinan bukanlah jadi alasan mendasar untuk sebuah kematian yang sungguh tragis.
- Pesawat kertas berwarna merah rakitannya adalah simbol dari tanda ketakberdayaannya. Tentu, ia pun sungguh sadar, bahwa pesawat ciptaanya itu, tidak akan pernah bisa terbang untuk selamanya.
Pesawat kertas karya YBS mungkin tidak bisa terbang jauh. Namun, pesan yang dibawanya telah sampai ke telinga para pengambil kebijaksanaan di negeri ini, bahwa perlindungan anak bermula dari rumah, melalui komunikasi yang hangat dan kepedulian yang tulus dari orangtua hingga lingkungannya. Demikian Sonya Hellen Sinombor dalam paragraf terakhir dari tulisannya.
Kediri, 17 Februari 2026

