Surat Yakobus mengajak kita untuk melihat pencobaan sebagai kesempatan untuk membentuk iman yang teguh. Ketekunan dalam menghadapi cobaan akan menghasilkan kedewasaan rohani. Tapi agar kita bisa bertahan itu membutuhkan hikmat yang hanya bisa diperoleh, bila kita rendah hati dan memintanya kepada Tuhan (bdk. Yak. 1:1-11). Dalam hidup sehari-hari, ujian itu datang dalam berbagai bentuk: kekecewaan, kesulitan ekonomi, dan godaan untuk menyerah. Semua itu bisa jadi jalan menuju pertumbuhan, jika dijalani bersama Tuhan.
Yesus menolak memberi tanda kepada orang-orang Farisi, karena hati mereka sebenarnya tidak mau percaya. Mereka hanya ingin bukti, bukan iman. Yesus tidak ingin kita hanya mencari mukjizat atau hal-hal sensasional, tapi memiliki iman yang bersandar pada hubungan pribadi dengan-Nya, dalam suka maupun duka (bdk. Mrk. 8:11-13). Iman sejati tidak tergantung pada tanda, tapi tumbuh dalam kesetiaan.
Dalam dunia yang gemar akan keajaiban instan, kita diajak untuk membangun iman yang tahan uji. Ketika hidup tidak sesuai harapan, jangan buru-buru menuntut tanda dari Tuhan, tapi mari memperdalam kepercayaan kita. Justru dalam proses itulah, Tuhan sedang membentuk kita jadi pribadi yang lebih sabar, bijaksana, dan kuat dalam kasih.
“Ya Tuhan, kuatkanlah kami agar tetap setia dan percaya, meskipun hidup tidak selalu mudah. Amin.”
Ziarah Batin

