Sepasang orang muda baru sebulan ini berpacaran. Memang banyak kesamaan di antara mereka yang membuat hubungan ini penuh dengan sukacita. Tapi banyak juga perbedaan yang sering memicu perdebatan, prasangka, pikiran negatif dan saling marah. Mereka harus belajar untuk menerima semua ini sebagai dinamika di dalam menjalin cinta sebagai pribadi-pribadi yang unik satu sama lain.
Mereka berdua sempat menghadiri acara pernikahan seorang teman mereka. Di dalam Misa pernikahan, Pastor yang berkotbah mengatakan, iman yang ditaburkan dan ditanam oleh Yesus ke dalam diri para pengikut-Nya ialah sesuatu yang mengalahkan semua bentuk logika yang ada. Iman bukan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, yang selalu berusaha memberikan bukti untuk dilihat, dijumpai, dipakai, dan diubah. Semua itu ada batasnya dan ada waktunya.
Iman sesungguhnya mengajarkan kita tentang yang tidak mungkin. Semua kebaikan dan kebenaran dari Tuhan adalah mungkin bagi Dia. Tapi bagi manusia adalah tidak mungkin. Kedua pasangan yang sedang dalam suasana nikah, demikian juga pasangan yang sedang berpacaran, harus menyadari, bahwa masing-masing pribadi unik, berbeda latar belakang dan keadaan, merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Cinta sejati adalah cinta tidak mungkin.
Banyak nasihat, petunjuk, dan perintah Tuhan, yang bagi nalar, logika dan perasaan kita sebagai manusia, sangat jelas tidak mungkin. Misalnya kita diminta untuk mengampuni tanpa batas, memasuki pintu yang sempit untuk bisa selamat, menggarami seluruh dunia, memberikan pipi kiri ditampar setelah kanannya, mengasihi dan mendoakan musuh, meninggalkan segala-galanya di dunia ini untuk mengikuti Kristus. Semua jadi bagian dari iman kita.
Alasan utama Tuhan menetapkan karakter iman kita sebagai sesuatu yang tidak mungkin, ialah supaya harapan kita tidak berhenti dan kita selalu tertantang untuk mencapainya. Semangat iman kita ialah mencapai dan jadi seperti Kristus. Yesus meminta kita untuk berbuat lebih jauh dari standar dunia ini, supaya kita mencapai standar-Nya. Intinya, Ia meminta supaya iman dan hidup agama kita harus melebihi para ahli Taurat dan kaum Farisi, yang merupakan pemegang kunci hidup beragama dan pengajaran iman.
Jadi, yang tidak mungkin itu adalah hikmat Allah, yang meskipun tersembunyi dan selalu tidak kita pahami, kita tetap menerima dan menaatinya. Itu adalah cara kita menjawab panggilan-Nya dan jalan yang kita pilih untuk mencapai kesempurnaan. Kita selalu dinasihatkan oleh Kitab Suci untuk memilih jalan ini, dan bukan jalan atau cara hidup yang lain.
“Ya, Bapa, semoga dengan perayaan Misa Minggu ini, kami tetap setia dalam jalan panggilan untuk jadi saksi Kristus yang sesungguhnya di tengah dunia ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

