“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Mrk 8: 2a).
Suatu hari, seorang anak kecil melihat temannya di sekolah tidak membawa bekal. Tanpa berpikir panjang, ia memecah rotinya jadi dua dan membagikannya. Ketika ditanya, mengapa, ia menjawab sederhana, “Supaya kami berdua bisa kenyang.” Tindakan kecil itu mencerminkan kasih yang tumbuh dari hati yang berbelas kasih.
Yesus memiliki hati seperti itu, bahkan jauh lebih besar. Ia tergerak oleh belas kasihan, ketika melihat orang banyak yang lapar dan lemah. Dalam belas kasihan-Nya, Ia bukan hanya memberi pengajaran rohani, tapi juga memenuhi kebutuhan jasmani. Belas kasihan Yesus menunjukkan kasih Allah yang hadir nyata dalam tindakan. Ekaristi yang kita terima adalah wujud tertinggi dari belas kasihan itu. Allah sendiri memberi diri-Nya sebagai ‘Roti Hidup’ untuk kita.
Yesus mengundang kita untuk memiliki hati yang serupa dengan-Nya: hati yang peka, yang tidak tinggal diam melihat penderitaan sesama. Mungkin kita tidak bisa memberi banyak, tapi kasih yang tulus, sekecil apa pun itu mampu menghadirkan wajah Allah di dunia.
Sr. M. Philippa, P. Karm
Sabtu, 14 Februari 2026
1 Raj 12: 26-32; 13: 33-34 Mzm 106: 6-7.19-22; Mrk 8: 1-10
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

