Mengenang Asal-usulnya
Menilik sejarahnya, perayaan Hari Valentine menimbulkan banyak pertanyaan yang membingungkan perihal asal-usulnya. Sama membingungkannya dengan mencari hubungan antara kasih sayang dengan nama Valentine. Berbagai cerita digali untuk menjelaskan. Salah satu versi yang tidak banyak dikutip menyebutkan, tradisi Valentine berasal dari pawai sejumlah wanita Jerman pada abad pertengahan. Mereka mengawal sebuah kereta yang dipercaya sedang ditumpangi seorang Dewi. Iring-iringan itu disambut sukacita oleh masyarakat.
Dalam festival kuno penuh sukacita yang bisa berlangsung sampai 12 hari itu, wanita bebas melakukan apa saja termasuk seks, karena dihormati sebagai simbol kesuburan. Asal-usul penggunaan nama St. Valentine pada perayaan di awal musim semi itu diduga erat kaitannya dengan kegerahan pihak Gereja dan upaya untuk mengontrol jalannya fistival.
Versi lain yang paling sering muncul mencatat, Hari Kasih Sayang itu merujuk pada festival Lupercalia yang dirayakan bangsa Roma sejak berabad-abad sebelum masehi. Festival yang diadakan pertengahan bulan Februari ini didedikasikan untuk memuja Dewa Faunus, Dewa pelindung pertanian, dan sebagai sarana untuk menyucikan diri. Dalam pesta yang sekaligus untuk menyambut musim semi itu, mereka memohon kesehatan dan kesuburan bagi tanaman, hewan, ternak, dan diri mereka sendiri.
Setelah upacara pemujaan Dewa selesai, festival dimulai. Wanita muda Roma akan menempatkan nama-nama mereka dalam kendi besar. Setelah itu, setiap bujangan, akan memilih satu nama dari kendi itu untuk bertukar hadiah dan jadi pasangannya sampai pesta berakhir. Tidak jarang, hubungan itu berakhir dengan perkawinan (makna: kasih sayang/cinta yang mengarah pada hal-hal jasmani, kesenangan)
Sekitar abad V Masehi, setelah bangsa Romawi jadi Kristen, sistem lotre mencari pasangan itu dianggap tidak pantas. Karena itu, Paus Gelasius mendeklarasikan tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine. Pada abad pertengahan, awal musim semi di Inggris dan Perancis, juga dikenal sebagai masa burung-burung mencari pasangan, yang mengukuhkan masa itu sebagai saat kasih sayang.
Pemberian nama Valentine sendiri merujuk pada dua Martir yang meninggal sekitar dua abad sebelumnya. Valentinus pertama adalah pendeta dan ahli fisika Roma yang menentang pemerintahan Kaisar Claudius II, yang bukan pemeluk agama Kristen, sehingga mendekam di penjara dan kemudian dijatuhi hukuman mati.
Dalam cerita itu dikisahkan, selama berada di penjara, Valentinus diminta seorang sipir penjara untuk mengajar putri sang sipir yang buta. Valentinus dengan sabar mengajar berhitung, mengenalkannya kepada Tuhan, dan membacakan sejarah Roma. Hubungan mereka jadi sangat dekat, dan sebelum kematiannya, Valentinus meninggalkan pesan terakhir untuk putri sang sipir dengan kalimat penutup “from your Valentine.”
Valentinus dihukum mati esok harinya, tanggal 14 Februari 270, dekat sebuah gerbang yang kemudian diberi nama Porta Valentini untuk mengenang namanya. Di atas kuburannya di Roma, lalu dibangun sebuah Gereja. Diceritakan pula, bahwa putri sang sipir menanam sebatang pohon almond di dekat kuburannya, yang sekarang jadi simbol cinta dan persahabatan yang abadi (makna: kasih sayang/cinta yang berani berkorban dan memaknai persahabatan yang sejati). Valentinus kedua adalah seorang Uskup dari Temi yang juga meninggal di Roma tahun 273.
Berdasar kisah itu, nama Valentinus lalu dikenang sebagai simbol kasih sayang dan diperkenalkan untuk menggantikan tradisi festival kuno. Meskipun Gereja Katolik tidak lagi memperingati Santo Valentinus setiap tanggal 14 Februari dalam kalender liturgi resminya, tradisi Valentine terus diselenggarakan dari masa ke masa, dimulai dengan saling mengirimkan kartu ucapan.
Kartu Valentine mulai jadi tradisi di abad pertengahan, dan kartu ucapan yang dikirimkan pada hari Valentine tercatat sebagai kartu ucapan tertua kedua setelah kartu ucapan tahun baru. Salah satu kartu tertua tersimpan di British Museum. Dikirimkan tahun 1415 oleh Charles, Duke of Orleans untuk isterinya dari penjara Menara London. Dalam hampir setiap kartu, kalimat penutup pesan terakhir Valentinus kepada putri sang sipir, “from your Valentine,” jadi kalimat favorit yang terus digunakan sampai sekarang.
Mengapa Harus Mawar?
Jenis bunga yang paling banyak dijual untuk memeriahkan Hari Kasih Sayang adalah Bunga Mawar. Mengapa harus mawar? Sebab bunga mawar, meski berduri telah diakui sebagai bunga tanda cinta!
Rose dari Eros
Menurut cerita-cerita Yunani, bunga mawar merupakan penjelmaan seorang gadis kecil yang cantik. Dewi bunga, Flora, menaruh iba kepada gadis cantik yang meninggal di usia yang amat muda ini. Sebagai ungkapan kasihnya, Flora memberikan kehidupan baru sebagai bunga tercantik yang pernah ada. Sayang, walaupun cantik, tubuh bunga ini tetap kaku kedinginan. Flora pun minta pertolongan suaminya, dewa angin Barat, yaitu Zephyrus.
Zephyrus menyingkirkan semua awan, sehingga sinar matahari sampai tubuh bunga cantik ini. Begitu terkena sinar, tubuh kaku bunga cantik ini pun hangat merekah. Namun, Flora masih belum puas. Ia meminta Dewi Kesuburan dan Kecantikan, Aphrodite, untuk memberikan kemilau dan pesonanya kepada bunga yang belum bernama ini. Oleh Dionysius, Dewa Anggur, bunga ini dihadiahi keharuman. Setelah tampak sempurna, akhirnya diberilah bunga ini nama oleh Aphrodite. Namanya Rose (Mawar). Nama ini diambil dari nama anam Aphrodite, yaitu Eros, sang Dewi Cinta. Nama cantik Rose ini memang sengaja diambil dari huruf-huruf yang menyusun kata Eros (cinta) sebagai perwujudan kasih sayang Aphrodite kepada Eros. Begitulah kisah awal bunga mawar jadi bunga cinta (Dikumpukan dari berbagai sumber
Rm.Petrus Santoso SCJ)
Rujukan Kasih dan Perwujudannya
Dua perikopa rujukan untuk memaknai kata/kualitas kasih sebagaimana dilihat dari sisi religius. Saya bertitik tolak dari pengalamanku sebagai orang Katolik, pengikut Yesus orang Nazareth itu. Dia adalah idolaku dalam bertindak kasih.
Yoh 15:9.17: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.
Mat 22:37-39: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Makna bagi kita: untuk bisa total mengasihi, tiga unsur pokok itu harus diperhatikan (Allah – sesama – diri sendiri). Diharapkan berjalan seimbang.
Pertanyaan yang muncul, “Kalau Anda bertanya apa itu kasih?” Terus terang tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya. Tapi saya mempunyai ukuran demikian: jika Anda melakukan sesuatu terhadap orang lain dan itu membuat hati Anda dan orang tersebut lega, atau Anda dan dia sama-sama bahagia, mungkin itulah perbuatan yang berlandaskan kasih.
Ada kesaksian seorang penulis buku, Paulus Winarto: “Ketika Ia Menyapaku”. Aku mengamini ungkapannya, demikian; saya sering berkata pada diri saya, bahwa hidup ini teramat indah, jika dinikmati dan teramat sayang, jika dihabiskan hanya untuk menambah jumlah musuh. Kasihilah semua orang yang Anda jumpai dalam hidup ini, meski terkadang amat sulit. Siapa sih yang dalam lubuk hati kecilnya selalu ingin menambah jumlah musuh setiap hari? Bukankah hidup ini akan terasa amat indah dengan adanya banyak teman di mana-mana?
Godaan dan Tantangannya
Ada ungkapan untuk menggambarkan betap dahsyatnya suatu godaan: Hidup manusia ini ibarat ditarik lima ekor kuda liar bernama pancaindra. Sanggupkah kita jadi kusir tangguh yang mampu mengendalikan dan menjinakkan kelima kuda liar tersebut?
Maka ada cara yang relevan untuk mengalahkan godaan-godaan tersebut. Sekali lagi merujuk pada tokoh idola kita, Yesus orang Nazareth. Ia digoda, tapi bisa menangkal godaan tersebut. Caranya adalah ‘pantang’ dan ‘puasa’. Kesempatan ada, tapi ia tidak menggunakan kesempatan itu. Arti lain, mampu mengendalikan diri. Menurut saya pantang dan puasa itu jadi kawah candradimuka yang amat baik untuk mendewasakan kita. “Try it and you’ll find the happiness” (misal: kalau pacaran berhati-hati. Boleh mengungkapkan kasih, tapi jangan sampai kebablasan, dll).
Menurut hemat saya, godaan itu sebenarnya jadi tantangan bagi kita untuk terus bisa maju dalam tindakan. Dasarnya jelas, manusia diberi kebebasan memilih agar terus bertumbuh. Pertumbuhan kita amat tergantung dari pilihan pribadi masing-masing.
Cerita Bermakna
Seorang pemuda menemui seorang pertapa. “Bapa, aku orang yang sangat sibuk dan selalu mencoba untuk hidup baik. Namun, aku rindu sekali berjumpa dengan Tuhan. Bisakah Bapa menunjukkan padaku jalan menuju Tuhan dalam satu kalimat saja karena aku orang yang amat sibuk, ” katanya dengan tulus. “Hai anak muda, aku akan menunjukkan kepadamu yang bijak jalan menuju Tuhan. Tidak dalam satu kalimat, melainkan hanya dalam satu kata, yaitu silence. Keheningan,” jawab Pertapa itu.
Makna: Jika Anda ingin menjumpai Tuhan, masuklah ke dalam keheningan. Itulah alasan mengapa kita merasa lebih ‘nyaman’, bila kita berdoa tengah malam, saat semua hiruk pikuk telah berlalu. Dalam meditasi yang membawa kita masuk ke dalam suasana hening, kita merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat dan begitu nyata.
Ucapan
Di “Hari Kasih Sayang,” kembangkanlah selalu 4S: Salam – Sapa – Senyum – Sayang. Dasarnya jelas, yaitu Kasih (bdk. 1 Korintus 13).
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

