Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Tradisi komunitas adat budaya mewariskan kebiasaan ritual. Ada pengalaman spiritual yang dipatrikan dalam aneka ritual oleh komunitas adat budaya. Itulah warisan kepercayaan dan agama asli setiap komunitas lokal. Ungkapan relasi totalitas diri dan komunitas akan “Sang Hyang Agung”, yang begitu berkuasa dan menggentarkan, sekaligus sedemikian mempesona indah menarik.
Banyak bentuk ritual untuk ungkapan syukur, permohonan, perlindungan, dan keperluan lainnya. Ada ritual yang berkaitan dengan daur hidup setiap manusia. Ritual perkawinan, kehamilan, kelahiran, anak turun tanah, cukur rambut, merapikan gigi, akil baliq – remaja, dewasa, pengobatan sakit, kematian dan penguburan, serta penghormatan arwah. Ritual sebagai ungkapan spiritual dalam kehidupan pribadi manusia di tengah sesama dan alam lingkungan.
Dalam setiap komunitas adat budaya, ada tata aturan ritual yang berkaitan dengan setiap fase daur kehidupan. Ada ritual yang hanya dilakukan terbatas dalam keluarga inti, ada yang melibatkan suku, ada yang melibatkan komunitas kampung, serta pihak luar.
Sejauh yang saya pahami dari pengalaman di kampung asal, setiap ritual daur hidup ada pemangku adat atau pihak profesional adat tertentu yang dilibatkan untuk memimpin ritual. Ada jenis sesajennya, tempat ritualnya, dan kelengkapan lainnya. Semua ritual daur hidup tersebut, ada yang wajib dilakukan, ada pula yang hanya dilakukan sesuai kemampuan pihak keluarga yang bersangkutan. Setiap komunitas adat budaya bervariasi makna dan proses ritualnya.
Setelah mengalami ritual daur kehidupan, saya coba mencatat beberapa makna yang terkandung di dalamnya. Menurut saya, ritual daur kehidupan itu untuk menegaskan pengakuan dan komitmen pribadi, keluarga, suku dan komunitas akan keharusan menjaga keharmonisan relasi dalam kehidupan. Relasi dengan orangtua, keluarga besar dari Ibu Bapa, relasi dengan tetangga dan komunitas, relasi dengan leluhur, relasi dengan alam gaib dan lingkungan hidup, serta relasi dengan Sang Hyang Agung, Pemilik seluruh ciptaan jagat raya ini. Setiap manusia berasal dari Sang Hyang Agung, hidup di tengah sesama dan alam lingkungan, dan akan mati kembali kepada asal mulanya.
Ada penjelasan makna yang bisa disimak dari bahasa adat saat ritual dilakukan, di mana bahasanya mengandung nilai sastra dan spiritual yang istimewa.
Ketika masuknya pengaruh agama modern dari luar komunitas adat, ada ritual yang masih dipertahankan, tapi banyak yang perlahan hilang dan punah, karena berbagai alasan kontekstual di setiap keluarga dan komunitas adat budaya lokal.
Daya tahan ritual daur hidup tergantung pada kebutuhan dan manfaat bagi pribadi, keluarga, suku dan komunitas adat pemiliknya. Sejarah mencatat fakta dan perjalanan zaman mengujinya bagi komunitas pemilik ritual adat budaya masing-masing.

