“Allah serasa jauh dan menjauh, karena tiada rasa bersyukur. Allah makin dekat dan menyatu dengan kita, ketika hidup ini disyukuri sebagai anugerah-Nya.” -Mas Redjo
Allah sejauh doa? Faktanya, Allah bertahta di hati ini, dan hembusan nafas-Nya adalah udara yang kita hirup.
Bagi saya pribadi, doa adalah nafas hidup orang beriman untuk datang mendekatkan diri pada Yang Ilahi dan berelasi intim dengan-Nya.
Allah sedekat realita, ketika hidup ini dimaknai dengan seisi alam ciptaan-Nya agar kita bijak untuk mensyukuri dan mengelolanya.
Allah sejauh doa, padahal sejatinya teramat dekat dengan diri ini, ketika doa-doa kita dihidupi lewat perencanaan, strategi, dan tindakan yang terarah pada hasil.
Selalu menyertakan dan mohon berkat Allah adalah cara saya untuk mewujudkan doa itu jadi nyata.
Resepnya adalah kita dituntut untuk fokus dan melakukan semua itu didasari semangat juang pantang menyerah dan sepenuh hati. Karena perjuangan itu tidak mengingkari hasil.
Selalu bersyukur adalah semangat perjuangan untuk memaknai hidup sejati. Karena sesungguhnya tujuan hidup ini tidak didasari pada hasil pencapaian diri, tapi sebagai ungkapan syukur atas anugerah-Nya.
Hidup bermakna itu adalah dengan menghadirkan wajah kasih-Nya di dunia!
Mas Redjo

