“Ketika Allah membuka hati kita, Ia tidak hanya menyembuhkan. Ia mempersatukan kita dalam Kristus dan mengutus kita untuk berbuah bagi keselamatan dunia.”
Yesus menyentuh seorang tuli itu tidak di tengah keramaian. Ia membawa ke tempat yang tenang. Ia menyentuh telinganya.
Ia menyentuh lidahnya. Lalu Ia berkata, “Efata—Terbukalah!”
Seketika itu juga telinganya terbuka dan lidahnya terlepas.
Penyembuhan itu bukan sekadar mukjizat, melainkan pewahyuan tentang siapa Yesus sebenarnya.
Ketika orang banyak berkata,
“Ia menjadikan segala sesuatu baik,” kita mendengar gema penciptaan: “Sungguh amat baik.” Sang Pencipta telah masuk ke dalam ciptaan-Nya untuk memulihkan yang rusak oleh dosa.
Kita melihat luka perpecahan. Kerajaan terbelah karena hati yang tidak lagi setia mendengarkan Tuhan. Ketika manusia berhenti mendengar Allah, persatuan pun retak. Bukankah ini juga kisah kita? Saat kita tidak lagi mendengar Sabda, relasi jadi dingin. Saat ego lebih kuat dari ketaatan, persekutuan berubah jadi konflik. Tapi Engkau tidak meninggalkan umat-Mu.
Melalui Yesus, Alah memulai karya pemulihan. Ia tidak hanya membuka telinga dan lidah, tapi membuka hati agar mampu mendengar dan bersaksi. Orang tuli itu tidak bisa meminta sendiri. Ia bergantung pada iman teman-temannya. Bahkan saat Yesus membawanya menjauh, ia harus percaya.
Demikian pula dengan kami. Ketika doa kami lemah, iman goyah, dan kata-kata kami tidak sempurna. Rahmat-Mu tetap bekerja.
Dalam Mazmur, Allah berkata:
“Akulah Tuhan Allahmu… bukalah mulutmu lebar-lebar dan Aku akan mengisinya.” Tapi sering kali kami menutup hati, lebih memilih jalan kami sendiri. Hari ini kami ingin belajar mendengar kembali.
Ucapkan atas kami: Efata. Bukalah telinga kami untuk mendengar kehendak-Mu. Bukalah hati kami untuk taat. Bukalah mulut kami untuk mengucapkan berkat, bukan keluhan.
Satukan kami dalam Kristus. Bukan hanya sebagai individu yang disembuhkan, melainkan sebagai satu tubuh yang hidup oleh Roh yang sama. Sembuhkan ketulian yang membuat kami sulit mendengar satu sama lain. Pulihkan lidah yang lebih cepat menghakimi daripada mengasihi. Setelah Engkau membuka kami, utuslah kami.
Karena mukjizat-Mu tidak berhenti pada diri kami. Engkau membuka kami agar kami berbuah: perdamaian, belas kasih, dan kesatuan bagi keselamatan dunia.
Yesus, Engkau melakukan segala sesuatu dengan baik. Lakukanlah karya-Mu dalam diri kami hari ini. Efata. Terbukalah.
Kami menerima kesembuhan dari-Mu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

