Seorang bapak berusia 75 tahun meminta Pastor Paroki untuk dibaptis jadi seorang Katolik. Hidupnya selama ini sebagai orang yang tidak beragama. Pastor memberikan persiapan khusus kepadanya sebelum dibaptis. Tidak lama setelah mengikuti katekumen, istrinya yang berusia 72 tahun juga meminta untuk dibaptis. Maka Pastor Paroki memberikan persiapan kepada mereka bersama-sama. Mereka berkata: tidak ada terlambat dalam beriman kepada Tuhan.
Langkah yang diambil oleh pasutri lansia itu merupakan sebuah perwujudan persekutuan sebagai panggilan. Tuhan tidak membutuhkan persekutuan, tapi kita yang membutuhkan supaya kita dapat bersatu dengan-Nya. Panggilan kita manusia di dunia ini sampai ke titik persekutuan itu. Namun hal ini tidak mudah. Kegagalan Raja Salomo dalam mempertahankan persekutuan dengan Tuhan adalah salah satu contohnya. Ia tidak mengikuti teladan Ayahnya, raja Daud.
Dosa Salomo terbesar yang membuat ia dikutuk oleh Allah ialah mengikuti kehendak para istrinya yang berlatar belakang tidak beriman kepada Tuhan. Para istri itu menyembah dewa-dewa. Murka Tuhan menggoyahkan kerajaannya. Pada saat kerajaan itu dilanjutkan oleh putra Salomo, kerajaan itu mengalami perpecahan besar. Hukuman atas dosa melawan Roh Kudus ialah kehancuran dan tidak dapat diampuni, begitu kata Yesus dalam kitab suci.
Salomo sangat jelas memperlihatkan suatu perpecahan atas persekutuan yang sudah diwariskan dengan mantap, dengan paling kentara ialah pemisahan antara yang kafir dan yang percaya. Ada suatu pemahaman, bahwa kafir itu paling jahat dan tidak bisa berpaling kepada Allah. Orang beragama, kalau masuk ruang hidup, bersentuhan, dan berinteraksi atau berkomunikasi dengan yang kafir sudah langsung menajiskan diri mereka. Tidak ada kemungkinan untuk terjadi relasi satu titik pun dengan mereka yang berlainan kepercayaan dengannya.
Justru di sini yang menciptakan perpecahan ialah orang-orang beragama. Orang kafir hanya berusaha untuk hidup baik sebagai manusia dan mengusahakan kelayakan hidup di dunia ini. Dalam sanubarinya tersimpan benih-benih iman yang tinggal menunggu saatnya untuk terbuka, lalu mereka memandang dan percaya kepada Allah.
Yesus merintis jalan terbuka bagi mereka. Ia membuka hati orang kafir, melebarkan jalan baginya untuk percaya kepada Tuhan. Yesus jauh lebih bijaksana daripada Salomo, karena Ia menyatukan orang beragama dengan mereka yang dipandang kafir. Tugas yang sama yang mesti kita lanjutkan pada saat ini. Saat ini tidak cocok untuk memandang orang lain kafir!
“Ya, Allah yang Mahabijaksana, berikanlah kami hati yang bijaksana sehingga kami dapat menciptakan dan mempertahankan persekutuan hidup di antara kami, dan bukan merusaknya dengan perpecahan. Amin. “
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

