“Harapan tidak runtuh saat jawaban terasa tertunda, dan kepercayaan tetap teguh pada kerahiman Allah.”
Sabda Allah mengajak kami bercermin dengan jujur.
Hati Salomo perlahan berpaling dari Allah. Bukan karena satu dosa besar, melainkan karena kesetiaan yang mulai terpecah.
Pemazmur mengingatkan kami: umat Allah sering lupa, berkompromi, dan akhirnya menanggung akibatnya.
Injil mempertemukan kami dengan seorang Ibu yang justru memilih setia. Ibu asing itu bersujud di hadapan Yesus. Ia tidak mempunyai kedudukan dan hak istimewa, tapi hanya iman.
Ketika Yesus mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti penolakan, ia tidak tersinggung, menuduh, dan tidak pergi. Ia mendengarkan dengan iman. Ia menangkap, bahwa yang tampak seperti penolakan itu sebenarnya adalah undangan untuk percaya lebih dalam. Ia berani berharap, bahwa bahkan remah-remah kerahiman Allah pun cukup. Imannya tidak mengecewakan.
Melalui Yesus, Allah mengajarkan kami, bahwa kerahiman-Nya tidak dibatasi oleh status, tapi dibuka oleh iman. Bukan dituntut dengan keras, melainkan diterima dengan kerendahan hati.
Ajarlah kami membaca cara-Mu bekerja, ya, Tuhan. Saat doa terasa tertunda, jauhkan kami dari putus asa. Saat ditegur, ajarlah kami tetap rendah hati. Saat harapan diuji, kuatkanlah iman kami.
Seperti iman Ibu yang anaknya menderita itu dan seperti Santa Faustina yang berani berdoa, “Yesus, Engkaulah andalanku, meskipun segala sesuatu dalam diriku tampak melawan harapan,”
ajarlah kami tetap melekat kepada-Mu.
Jangan biarkan hati kami perlahan berpaling seperti Salomo. Tapi ikatlah kami dalam ketekunan, iman, dan kasih yang setia sampai akhir.
Kami percaya kepada-Mu, Tuhan.
Bahkan sekarang pun, Engkau sudah dan sedang bekerja.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

