Sepasang suami dan istri dalam satu tahun terakhir hidup dalam konflik dan sepertinya tidak ada tanda berhenti. Mereka berdua sepakat untuk bercerai melalui beberapa proses. Salah satu hal dari proses itu ialah mereka berdua bertemu Pastor Paroki untuk meminta pendapatnya. Masing-masing menyampaikan pendirian dan alasannya untuk bercerai. Menurutnya keputusan itu sudah bulat. Kepentingan diri masing-masing sangat kuat, dan bagi Pastor ini adalah contoh dua hati yang lama.
Sang Pastor memiliki tugas amat penting untuk mengubah hati yang lama itu jadi hati yang baru. Setelah memberikan pendapat dan nasihatnya, Pastor mempersilakan masing-masingnya untuk adorasi di depan Sakramen Mahakudus.
Di dalam gereja, mereka duduk berjauhan untuk berdoa. Sekitar satu jam berlalu, mereka kembali bertemu Pastor di kantornya. Masing-masing menyampaikan, bahwa ia sadar akan kesalahan dan kesombongannya. Ia berniat mengampuni pasangannya. Ia memutuskan untuk tidak bercerai.
Pasangan itu akhirnya mendapatkan sebuah hati yang baru. Masing-masingnya jadi orang yang baru. Pengalaman ini menunjukkan, bahwa terciptanya sebuah hati yang baru itu tidak bisa hanya dengan urusan seorang diri. Kalau tanpa campur tangan Tuhan dan sesama ia tidak bisa apa-apa, tidak bisa jadi baru. Sakramen-sakramen dan bimbingan rohani adalah dua dari banyak cara yang membantu seseorang untuk mengalami dirinya jadi baru.
Salah satu isi firman Tuhan yang menggerakkan kita untuk menciptakan hati yang baru ialah seperti yang diwartakan oleh firman Tuhan, yang pada prinsipnya berisi kebijaksanaan Tuhan tentang bagaimana hidup semestinya dalam mengikuti Kristus. Pilihan kita mesti ke sana, seperti yang dilakukan oleh Salomo yang membuat hikmat hidupnya bisa menarik perhatian Ratu dari Syeba dan seluruh dunia. Kalau kita memilih dan menggunakan selalu kebijaksanaan, Tuhan menyediakan itu dan menyempurnakannya di dalam kita.
Hati yang baru ialah hati yang bersih. Kotoran, kenajisan, fitnah, benci, dengki, dan marah mestinya dikeluarkan dari sana. Yesus meminta kita supaya semua itu tidak disimpan di hati seperti kita menyimpan harta kekayaan dengan begitu aman. Semua itu menajiskan atau mengotori kita, jadi harus dikeluarkan melalui pemeriksaan batin lalu melepaskannya dengan bantuan orang lain dan Gereja. Hal ini sama sekali tidak ada hubungan dengan makanan yang halal dan tidak halal. Makanan atau minuman itu tidak pernah mempunyai kaitan dengan menciptakan hati yang baru. Hati yang baru adalah urusan rohani, sementara makanan dan minuman urusan perut dan jasmani. Jadi sangatlah beda!
“Ya, Allah yang Mahabijaksana, semoga Roh-Mu memimpin kami selalu di dalam kebijaksanaan untuk menyatu dalam Yesus Kristus melalui hidup kami, dalam kata dan perbuatan. Amin.“
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

