“Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang itu tidak dapat menajiskannya, tetapi yang ke luar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7: 15).
Yesus menekankan, bahwa kekudusan atau kenajisan seseorang tidak ditentukan oleh hal-hal lahiriah semata, tapi oleh yang ke luar dari dalam hatinya. Orang Yahudi pada masa itu sangat terpaku pada aturan-aturan lahiriah, seperti makanan halal-haram dan upacara penyucian. Namun, Yesus mengajak kita untuk melihat lebih dalam kepada hati.
Banyak orang yang masih menilai seseorang dari penampilan luar, status sosial, cara bicara, atau kebiasaan lahiriah. Padahal, yang benar-benar menentukan kualitas manusia adalah isi hatinya: apakah ia penuh kasih atau kebencian, apakah ia jujur atau munafik, apakah ia membawa damai atau justru menyebarkan pertikaian?
Yesus ingin kita memeriksa isi hati kita sendiri. Perkataan dan tindakan kita sehari-hari mencerminkan yang tersembunyi di dalam hati. Jika hati kita dipenuhi amarah, iri hati, atau kesombongan, maka itulah yang akan ke luar dari hidup kita dan mencemari hubungan dengan sesama maupun dengan Tuhan. Sebaliknya, jika hati kita dipenuhi kasih, pengampunan, dan kerendahan hati, maka hidup kita akan jadi berkat bagi orang lain.
Sr. Imelda, P. Karm
Rabu, 11 Februari 2026
1 Raj 10: 1-10 Mzm 37: 5-6.30-31.39-40; Mrk 7: 14-23
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

