Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kepuasan dapat membuat orang miskin menjadi kaya, sedangkan keserakahan dapat membuat orang
kaya menjadi miskin.”
(Hamdan Hamedan)
Manusia, Makhluk yang Tidak pernah Merasa Puas
Manusia, sudah dikenal sebagai makhluk ciptaan yang “tidak pernah merasa puas.” Selalu saja ia merasa tidak puas dengan yang ada dan dengan sesuatu yang telah ada. Hal ini akan sangat berdampak, bahwa manusia itu tidak pernah sungguh merasakan bahagia.
Apakah Kepuasan itu?
Secara definitif dapat dikatakan, bahwa kepuasan adalah suatu perasaan senang dan bahagia yang timbul di dalam hati manusia, ketika semua kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Puas
“Siapakah manusia yang paling kuat?”
“Manusia yang paling sabar.”
“Mengapa?”
“Karena ia telah mengalahkan musuh yang paling kuat, yaitu hawa nafsunya.”
“Siapakah manusia yang paling berani?”
“Manusia yang paling dermawan.”
“Mengapa?”
“Karena ia telah mengalahkan ketakutannya akan kemiskinan.”
“Siapakah manusia yang paling kaya?”
“Manusia yang paling pandai bersyukur.”
“Mengapa?”
“Karena ia telah puas dengan yang dimiliki atau pun yang tidak dimilikinya.”
(Berguru pada Saru)
Itulah si Manusia
Dialog menarik di awal tulisan ini telah mengekspresikan sebuah fakta dan realitas hidup manusia. Ya, sungguh, demikianlah adanya. Sekali lagi, itulah sebuah fakta dan realitas.
Jika memang demikian adanya, maka sungguh berbahagialah manusia yang:
(1) Mampu bersabar;
(2) Mampu bersikap berani;
(3) Mampu mengalahkan ketakutan;
(4) Mampu merasa bersyukur; dan
(5) Mampu merasa puas dengan yang telah ada.
Mengapa Manusia Tidak pernah Merasa Puas?
- Karena manusia itu selalu menginginkan sesuatu yang tidak terbatas. Apa saja ingin dimilikinya.
- Karena manusia itu suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Hal itu berdampak ia pun sulit untuk menerima keberadaan dirinya.
- Karena manusia itu gagal fokus, ia suka membayangkan sesuatu yang tidak dimilikinya.
- Karena manusia itu mudah dipengaruhi oleh media, berupa iklan.
Refleksi
Jika kita sungguh mau bersikap cermat, sadar, dan mampu merefleksikannya dengan serius serta mendalam, maka semuanya itu akan berpulang pada aspek kedewasaan mental spiritual manusia itu sendiri.
Homo est Animal Rationale
“Manusia adalah Makhluk yang Berakal Budi”
(Anicius Manlius Severinus)
Kediri, 11 Februari 2026

