Salomo berdiri di hadapan Tuhan dan menyadari, bahwa langit yang luas pun tak mampu menampung kemuliaan Allah. Namun, ia memohon agar Allah tetap berkenan hadir di Bait Suci dan mendengarkan doa umat-Nya (1 Raj. 8:27-30). Hal ini menunjukkan, bahwa Tuhan bukan hanya Allah yang jauh di Surga, melainkan juga Allah yang dekat dan peduli pada umat yang datang dengan hati yang tulus.
Dalam Injil, Yesus menegur orang-orang Farisi yang terlalu fokus pada aturan lahiriah, tapi mengabaikan isi hati (bdk. Mrk. 7: 6-8). Mereka menghormati Allah dengan bibir, tapi hati mereka jauh dari-Nya. Yesus mengajak kita kembali pada inti iman: kasih dan kejujuran hati, bukan sekadar rutinitas atau tradisi tanpa makna.
Kita pun diajak untuk menjadikan hati kita sebagai ‘Bait Suci’ yang hidup, tempat Tuhan berdiam. Bukan kemegahan bangunan yang Ia cari, melainkan kesungguhan untuk hidup dalam kebenaran dan kasih.
Dunia membutuhkan orang-orang yang imannya tidak hanya tampak di luar, tapi juga nyata dalam tindakan membela keadilan, mengasihi tanpa syarat, dan menjaga integritas hidup.
“Ya, Tuhan, sucikanlah hati kami agar layak menjadi tempat kediaman kasih dan kebenaran-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

