“Allah tidak mencari ibadat yang sempurna secara lahiriah, melainkan hati yang sungguh melekat pada-Nya.”
Sabda Allah mengajak kami kembali ke pusat iman kami.
Dalam Injil, Yesus menegur mereka yang begitu setia pada tradisi manusia, tapi perlahan melupakan hati hukum itu sendiri. Tangan mereka bersih, tapi hati mereka menjauh dari Allah.
Bapa, kami pun sering terjebak dalam hal yang sama. Kami terbiasa berdoa, beribadat, dan melayani, tapi tanpa sadar menggantikan relasi dengan rutinitas, dan ketaatan dengan kenyamanan.
Salomo mengakui bahwa langit dan bumi pun tak sanggup memuat Engkau, namun Engkau tetap berkenan mendengarkan
setiap doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus. Engkau bukan Allah yang terikat oleh tempat atau ritual, melainkan Allah yang dekat dengan umat-Nya.
Pemazmur menyuarakan kerinduan terdalam kami: lebih baik satu hari berada di hadirat-Mu daripada seribu hari tanpa Engkau. Hati kami diciptakan untuk tinggal bersama-Mu.
Yesus, Engkau tidak meniadakan hukum Taurat, tapi menggenapinya dengan kasih dan belas kasih. Engkau menunjukkan, bahwa iman tanpa hati akan kehilangan daya hidupnya.
Bapa, sucikanlah hati kami. Singkirkan segala kemunafikan yang halus, tapi nyata. Ajarlah kami untuk berpegang teguh pada-Mu, bukan hanya pada kebiasaan yang menenangkan.
Jadikanlah hidup kami ibadat yang hidup, agar melalui kesederhanaan dan kasih yang tulus, orang lain dapat mengenal kerahiman-Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

