“Jangan memaklumi kenakalan anak. Alasannya, karena mereka masih kecil agar kelak kita tidak merasa bersalah dan menyesal sendiri.” –Mas Redjo
Umumnya, anak kecil yang nakal itu dianggap wajar dan cerdas. Jika mereka dibiarkan dan diumbar, kita yang bakal repot sendiri. Atau bisa jadi, kita telah hilang kepeduliannya pada mereka?
Coba diamati dan disikapi dengan bijak kenakalan anak itu agar tidak kebablasan dan menjerumuskan mereka ke jalan pembiaran yang menyesatkan dan salah kaprah.
Banyak di antara kita yang bersikap tidak peduli, ketika anak merontoki pohon buah tetangga, mengorek-orek tembok, melempar batu kecil ke atas genting, atau memindahkan kursi yang diduduki teman sehingga terjatuh.
Pernahkah kita sebagai orangtua itu memberi tahu, mengarahkan, atau bahkan kita bersikap tidak peduli dengan perbuatan mereka?
Ketimbang anak merontoki buah dan banyak buah muda yang jatuh mubazir, lebih baik anak diajari untuk meminta dengan sopan ke empunya; atau membeli, jika mempunyai rezeki. Tidak dibiarkan untuk merusak atau mencuri.
Ketimbang anak itu mengorek-orek tembok dan kotor. Lebih baik anak itu diarahkan dan dibelikan buku gambar atau untuk belajar melukis.
Begitu pula dengan anak yang iseng melempar batu kecil ke genting itu membuat bocor di waktu hujan atau batu itu menyumbat talang. Dengan memindahkan kursi yang diduduki teman, sehingga terjatuh itu berbahaya, karena bisa mengakibatkan kelumpuhan atau kebutaan.
Stop! Anggapan, bahwa kenakalan anak itu sebagai hal yang wajar dan dimaklumi orangtua. Sehingga anak merasa perbuatan itu benar, karena dilegitimasi orangtua!
Alangkah bijak, sebagai orangtua itu mengarahkan anak agar tidak kebablasan dalam bercandaan. Tapi didasari etika, keadaban, dan hal yang baik serta benar. Anak pun berjalan dalam koridor yang benar dan berkembang sesuai harapan orangtua.
Jangan pernah bosan untuk mengarahkan dan mengingatkan anak, karena kita peduli dan bertanggung jawab dengan masa depan mereka!
Mas Redjo

