Dalam khotbah di bukit, Yesus menegaskan identitas para murid sebagai garam dan terang dunia (bdk. Injil Matius). Pernyataan ini bukan sekadar metafora indah, melainkan panggilan hidup. Garam tidak hidup untuk dirinya sendiri; ia hadir untuk memberi rasa, mencegah kebusukan, dan menjaga kehidupan. Terang pun tidak disembunyikan; ia hadir untuk menerangi, memberi arah, dan menyingkirkan kegelapan. Jadi garam dan terang berarti kita sebagai penolong. Kita jadi pribadi yang menghadirkan kebaikan nyata bagi sesama.
Yesus mengajak para murid menyadari, bahwa melalui hidup merekalah dunia dapat merasakan sentuhan Allah. Garam yang tawar dan terang yang disembunyikan kehilangan maknanya. Iman Kristiani jadi nyata, ketika seseorang berani ke luar dari kepentingan diri, peka terhadap kebutuhan orang lain, dan terlibat dalam penderitaan sesama. Seorang murid jadi tanda kehadiran dan tindakan Tuhan: bukan terutama lewat kata-kata, melainkan lewat tindakan kasih yang konkret.
Nabi Yesaya menegaskan, bahwa terang sejati terungkap melalui kasih yang dibagikan pada mereka yang lapar, tidak berpakaian, dan tidak memiliki tempat tinggal. Terang itu bukan kemilau spiritual yang abstrak, melainkan sinar yang memanaskan kehidupan orang lain. Ketika tangan kita bisa berbagi dan langkah kita mendekat pada yang tersingkir, saat itulah terang Tuhan memancar melalui diri kita.
Keyakinan yang sama diteguhkan oleh Santo Paulus kepada Jemaat di Korintus. Dalam suratnya yang pertama, Paulus menegaskan, bahwa iman tidak bertumpu pada hikmat manusia, melainkan pada kekuatan Allah. Artinya, jadi garam dan terang itu bukan hasil kehebatan pribadi, melainkan buah dari keterbukaan pada karya Allah yang bekerja dalam kelemahan manusia. Ketika kita mengandalkan Tuhan, hidup sederhana kita pun dapat jadi sarana rahmat bagi banyak orang.
Mari kita membayangkan: sebuah lilin kecil yang dinyalakan di ruang gelap. Cahaya lilin itu tidak besar, namun cukup untuk menolong seseorang menemukan jalan dan menghindari bahaya. Lilin tidak memilih siapa yang pantas menerima cahayanya; ia hanya setia menyala dan menghabiskan dirinya. Demikian pula seorang penolong sejati: mungkin sederhana, sering tidak terlihat, tapi kehadirannya membuat hidup orang lain jadi lebih manusiawi dan penuh harapan.
Akhirnya, jadi garam dan terang dunia adalah panggilan harian untuk menghadirkan Allah di tengah realitas hidup. Melalui kasih yang dibagikan, pertolongan yang tulus, dan iman yang bersandar pada kekuatan-Nya, kita dipanggil untuk jadi saksi, bahwa Tuhan sungguh bekerja di dunia ini: melalui hidup kita yang mau dipakai bagi sesama.
“Ya, Allah yang Mahakuasa, peliharalah dan kuatkanlah iman kami kepada-Mu agar kami senantiasa jadi tanda kehadiran dan tindakan-Mu untuk menyelamatkan diri kami sendiri, sesama dan dunia di sekitar kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

