Mungkin engkau mengenalku sebagai sosok yang jarang mengeluh. Aku terbiasa menyimpan lelahku sendiri, berusaha tetap tegak demi keluarga kita. Namun, di balik diamku, mataku tidak pernah lepas melihat betapa hebatnya engkau.
Di saat masa sulit itu datang menghimpit, aku melihatmu bukan hanya sebagai pendamping, melainkan sebagai kekuatanku. Terima kasih telah menjagaku dengan amat sabar, bahkan saat aku sulit mengekspresikan apa yang kurasakan.
Ketawakalanmu kepada Tuhan dan caramu menjaga hidupku dengan penuh doa adalah hal yang membuatku mampu bertahan. Engkau mengerti lelahku tanpa perlu aku bicara, dan engkau menenangkan kegelisahanku dengan kesabaranmu yang luar biasa.
Terima kasih telah jadi jangkar bagi kapalku yang sempat terombang-ambing. Memilikimu adalah bukti nyata bahwa Tuhan sangat menyayangiku.
Dengan penuh syukur,
Para suami.
Jlitheng

