Yesaya menegaskan, bahwa ibadah sejati tidak berhenti pada doa dan ritual, tapi harus diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama. Memberi roti kepada orang lapar, tempat tinggal bagi yang miskin, dan memberi pakaian kepada yang telanjang itulah bentuk nyata dari terang yang menyinari kegelapan (Yes. 58: 7-10). Tuhan tidak menuntut hal besar, tapi meminta kita untuk peduli, hadir, dan berbagi dalam kehidupan bersama.
Dalam Injil, Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5: 13-14). Garam memberi rasa, terang menghalau gelap; dua gambaran sederhana, tapi maknanya sungguh mendalam. Kita dipanggil jadi orang Kristen yang membawa pengaruh positif: menebar harapan, menyuarakan kebenaran, dan menolak kejahatan dalam bentuk apa pun, termasuk korupsi, hoaks, rasisme, dan budaya membuang yang semakin marak hari-hari ini.
Santo Paulus mengingatkan, bahwa kekuatan pewartaan itu bukanlah pada kata-kata indah atau kepandaian manusia, melainkan pada kuasa Allah (1 Kor. 2: 1-5). Maka, jadi garam dan terang itu bukan soal kepandaian berbicara tentang Tuhan, melainkan kesediaan untuk jadi saksi melalui hidup sehari-hari: setia dalam kejujuran, murah hati dalam memberi, dan teguh dalam iman sekalipun dalam kelemahan.
Mazmur menegaskan, bahwa orang benar akan dikenang selama-lamanya, karena ia murah hati dan menaruh belas kasihan. Hidupnya tidak goyah sebab ia percaya kepada Tuhan. Inilah hidup yang memberi rasa bagi dunia dan jadi terang bagi sesama. Sebuah hidup yang sederhana, tapi berdampak besar, karena dilandasi kasih yang tulus.
Di tengah dunia yang haus akan keadilan dan damai, kita dipanggil jadi garam dan terang yang nyata. Bukan hanya dalam kata, melainkan terutama dalam tindakan konkret: membela yang lemah, peduli pada lingkungan, jujur dalam bekerja, dan jadi sahabat bagi yang tersingkir. Dengan itu, orang akan memuliakan Bapa di Surga melalui hidup kita.
“Ya, Tuhan, jadikanlah hidup kami sebagai garam dan terang yang memberi harapan dan kebaikan bagi dunia. Amin.”
Ziarah Batin

