Yohanes Pembaptis dibunuh, karena keberaniannya menegur Herodes. Ia tidak memilih jalan aman, tapi tetap setia menyuarakan kebenaran, meskipun berujung pada kematian (bdk. Mrk. 6:14-29).
Dunia sering kali lebih menyukai pujian palsu daripada teguran yang menyelamatkan. Namun, Yohanes menunjukkan, bahwa hidup yang bermakna bukan diukur dari panjangnya umur, melainkan dari keberanian untuk hidup benar.
Kitab Sirakh memuji Daud sebagai hamba yang setia dan berkenan di hadapan Tuhan. Meskipun ia pernah jatuh, Daud selalu kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rendah hati (bdk. Sir. 47:2-11). Ia bukan hanya Raja besar, melainkan juga penyair dan penyembah, yang hidupnya dipenuhi pujian kepada Allah. Kesetiaan seperti inilah yang dikenang dan diberkati Tuhan turun-temurun.
Kita dipanggil untuk jadi suara kenabian dalam kehidupan bersama; berani menyuarakan keadilan, menolak hoaks, melawan ketidakjujuran, dan memperjuangkan nilai-nilai Injil di tengah budaya diam atau ikut arus. Meskipun tidak selalu mudah, Tuhanlah sumber kekuatan kita, seperti diserukan dalam Mazmur, “Terpujilah Allah yang memberikan kemenangan kepada raja-Nya”.
“Ya, Tuhan, kuatkanlah kami agar berani hidup benar dan menjadi saksi kebenaran-Mu di tengah dunia ini. Amin.”
Ziarah Batin

