Secara umum kita bisa mengkategorikan kepercayaan, mandat, tanggung jawab, atau komitmen itu jadi dua.
- Yang pertama: kepercayaan untuk melakukan perbuatan-perbuatan jasmani, seperti bekerja mencari nafkah, memimpin organisasi, dan menjual atau membeli barang-barang.
- Yang kedua: kepercayaan terkait dengan melakukan kegiatan-kegiatan rohani, seperti pelayanan firman Tuhan, beribadat, berdoa, dan berpuasa.
Raja Daud memberikan kepercayaan kepemimpinan Kerajaan kepada putranya Salomo, dan ini kita bisa menganggapnya sebagai wakil dari suatu kepercayaan jasmani. Orangtua atau orang dewasa memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan harapan mereka. Banyak sekali kehidupan jasmani ini ditentukan oleh kepercayaan yang diberikan kepada kita, baik di dalam keluarga maupun di luarnya.
Yesus Kristus memberikan kepercayaan dan mengutus para murid-Nya, dapat dianggap sebagai wakil dari suatu kepercayaan rohani yang kita miliki. Kehidupan kita kapan dan di mana pun yang berkaitan dengan aspek rohani, semuanya ditentukan oleh kepercayaan atau nasihat dan bimbingan rohani yang diberikan kepada kita. Seseorang menghadiri Misa pada hari Minggu, dan dari sana ia membawa suatu kepercayaan untuk menjalani perutusan yang disampaikan oleh Imam pada akhir perayaan Ekaristi.
Pertanyaan yang penting adalah: apakah yang jadi kekuatannya sehingga kepercayaan baik jasmani maupun rohani itu memiliki martabat, kewibawaan, dan membuahkan kepercayaan yang lebih besar lagi dari orang lain di sekitar kita? Sejatinya, ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan yang memberikan kepercayaan itu. Nasihat, perintah, dan aturan-aturan yang ditetapkan senantiasa dijalani. Semua itu untuk menjamin, kalau kepercayaan itu berasal dari sebuah kuasa yang jauh lebih besar dan menjamin legitimasi terlaksananya tugas-tugas kita.
Ketaatan berarti Tuhan yang memberikan kepercayaan adalah benar dan kehendaknya bersifat tetap. Jadi tidak ada pertimbangan apa pun dari kita untuk berdebat bahkan memperbaikinya. Yang kita perbuat ialah mendengar, memahami, dan menjalankannya.
Kesetiaan merupakan sisi mata uang untuk ketaatan. Kesetiaan bertahan sampai ujung kehidupan, karena orang taat itu tanpa syarat. Banyak dari kita jadi seperti Daud atau Petrus, yang mengakui iman untuk taat, tapi terkadang kita tidak setia dalam berkomitmen. Yang penting ada penyesalan, lalu membaharui diri untuk kembali setia.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, pakailah kami dengan apa adanya untuk menunaikan kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

