Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – Lord Byron (1788-1824) penyair Inggris, menulis, “Bila matahari tertawa, jiwaku lebih mendekat kepada Tuhan.”
Ada sejumlah ungkapan, “Matahariku adalah jiwaku,”
“Matahariku, ekspresi hidupku,”
“Matahariku simbol kesetiaanku.”
Pernah, ada sekelompok siswa asing yang sedang asyik belajar bahasa Indonesia. Sang Guru, yang adalah orang Indonesia, mengajak para siswa untuk belajar “frase idiom” yang berkata depan, kata โmataโ.
Para siswa asing itu tampak sangat antusias dan segera mengagumi indahnya Bahasa Indonesia, setelah mereka sadar, bahwa ternyata, banyak sekali “frase idiom” yang berkata depan kata “mata,” di dalam bahasa Indonesia.
Halo, para muridku, teriak sang guru bersemangat, adaโฆ “mata duitan, mata keranjang, mata-mata, mata sapi, mata kail, mata menyala, mata hati, mata kaki, mata panah, mata nanar, dan matahari.โ
Jadi, para muridku, teriak sang guru, Indonesia, adalah satu-satunya negara yang “hari”-nya memiliki “biji mata, lo.”
Serentak seisi kelas itu pun terbahak-bahak.
Hadirnya matatahari di atas langit Indonesia, sebagai negara di khatulistiwa, tampaknya sudah tidak dipedulikan lagi. Inilah bintang raksasa terdekat dengan planet bumi, yang hanya berjarak sekitar 149.680.000 kilometer itu. Matahari, sang sumber energi bagi segala makhluk di atas bumi ini.
Betapa pentingnya kehadiran sang matahari ini, sampai melahirkan aneka ungkapan.
Seperti ungkapanโฆ
(1) “Suami membangun rumah, tapi istrilah yang membawa matahari ke dalamnya.”
(2) “Jika matahari tidak ada di langit, kita sendirilah yang menjadi matahari.”
Saudara, sang matahari, sungguh luar biasa penting bagi kehidupan makhluk di atas bumi. Betapa pentingnya sang matahari, baik di dalam makna “denotasi,” sebagai benda langit pemberi energi terang, serta pentingnya sang mentari sebagai “idiom filosofi,” dalam makna “konotasi.”
Saudara, tak pelak, sang benda langit raksasa ini, menjadi sungguh amat penting kehadirannya bagi makhluk hidup.
…
Kediri, 12ย Februariย 2023

