Di dalam kelas 4 SD, murid-murid diminta oleh gurunya untuk menulis tentang saling mencintai di antara Bapa dan Ibunya di rumah. Murid A menulis tentang Ibunya menyiapkan pakaian yang rapi dan teratur untuk Bapaknya saat hendak pergi kerja atau menghadiri pertemuan. Murid B bercerita tentang Bapaknya yang selalu setia menemani Ibunya belanja di pasar, membantu mencuci, memasak, dan merapikan rumah. Murid C bercerita tentang Ibunya yang setia menunggu sampai Bapaknya pulang kerja .
Masing-masing murid memberi sudut pandangnya tentang cinta di antara Bapak dan Ibunya di rumah. Sebuah sudut pandang mencakup dari posisi mana kita melihat dan memahami seseorang atau sesuatu, dan kehendak untuk melakukan yang sudah kita putuskan.
Raja Daud memiliki sudut pandangnya sebagai Raja. Ia memutuskan untuk bertindak sesuai sudut pandang dan kehendaknya. Namun ternyata sudut pandang Daud bertentangan dengan sudut pandang dan kehendak Allah. Untungnya Daud cepat menyesalinya dan meminta ampun, sehingga Allah mengampuninya.
Yesus Kristus tampil di publik sebagai seorang yang memiliki daya tarik luar biasa. Banyak sekali kesan dari orang-orang di sekitarnya sehingga menghasilkan aneka macam sudut pandang tentang diri-Nya. Para penggemar, murid-murid, dan para musuh-Nya memandang Dia secara berbeda-beda. Roh-roh jahat memandang, bahwa Yesus dapat digodai dengan segala taktik busuknya, namun Yesus mengalahkan mereka. Para Rasul pertama pernah bertanya: di manakah engkau tinggal Guru? Mereka anggap Yesus bakal memberikan mereka jaminan hidup jiwa dan raganya.
Injil hari ini berkisah tentang pandangan orang-orang sekampung dan sanak keluarga tentang pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus. Ternyata sudut pandang mereka terhadap Yesus sangat terbatas dan amat dangkal. Yesus dipandang sebagai seorang yang merupakan bagian dari mereka. Tidak ada sesuatu yang spesial pada-Nya. Intinya, ini adalah sebuah sudut pandang untuk meremehkan dan menolak Yesus, meskipun mereka mengetahui, bahwa Dia telah berbuat yang luar biasa dalam menolong dan mengatasi kesulitan banyak orang.
Sebuah sudut pandang yang kita miliki sangat bergantung pada standar pengetahuan, kebijaksanaan dan iman kita masing-masing. Kalau kita dibimbing oleh Roh Kudus dan iman kepada Yesus Kristus, sudut pandang kita tentu berdasarkan kehendak Tuhan. Kita tentu selalu meminta terang Ilahi melalui doa dan refleksi supaya mendapatkan sebuah sudut pandang yang baik dan benar. Kita harus dapat membebaskan diri dari memiliki sudut pandang negatif, sempit atau subjektif, dan destruktif. Ini pasti bukan dari terang Roh Kudus. Jangan membiasakan diri memiliki sudut pandang seperti ini!
“Ya, Allah yang Maha Murah, semoga kami senantiasa memandang Dikau dengan gembira dan semoga kami selalu melihat yang baik dan benar di dalam diri saudara-saudari kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

