Ungkapan dalam Bahasa Inggris yang mirip dengan tema ini ialah: “the game must go on.” Orang Italia menyebutnya “sempre avanti.” Kita menyadari, bahwa setan-setan tidak berhenti atau tidak lelah menggodai kita. Demikian juga kita paham, bahwa kesulitan dan penderitaan akan selalu kita alami.
Kita ingat tentang godaan terhadap Yesus sebanyak tiga kali, ketika Ia berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Diceritakan, ketika Yesus mengusir si penggoda itu dengan seruan: Enyalah engkau, Setan! Penjahat itu memang pergi, tapi ia tetap menunggu kesempatan lain yang tepat agar dapat menjalankan tugasnya menggodai dan memperdayai Yesus.
Setan-setan yang sedang istirahat sejenak itu tidak identik berhenti untuk menggoda dan mencobai Yesus, tapi sedang mencari saat yang tepat. Dengan begitu Yesus mempunyai kesempatan leluasa untuk menyembuhkan orang-orang sakit.
Begitu pula dengan Daud yang sedang dilawan oleh orang-orang dekatnya juga terbebas dari ancaman itu. Anaknya Absalom yang mengancamnya telah meninggal dunia. Di istananya itu Daud sedih dan menangisi anaknya. Ia harus melanjutkan tugasnya memimpin Kerajaan, karena itu adalah mandat dari Tuhan. Kesedihan itu wajar dan tetap terjadi, tapi kesedihan tidak untuk selamanya.
Kita harus berjalan terus dan tetap bersemangat. Tugas utama, mandat, perutusan, dan tanggung jawab itu harus tetap jadi urusan kita setiap saat. Meski godaan, tantangan, gangguan, kesulitan, dan bahkan ancaman apa pun bentuknya menghadang, kita jalan terus dan semangat. Tuhan tahu kita sedang berjuang dan meski diancam sekalipun, Ia akan turun tangan membantu kita di saat yang tepat. Hal ini juga untuk mencegah dua kebiasaan buruk yang sering kita lakukan.
Pertama: Ketika berhasil melewati sebuah ujian atau kesulitan, kita jadi santai, kurang waspada, dan kendor semangatnya. Hal ini justru jadi kesempatan baik bagi setan untuk mendekat melakukan tugasnya mencobai kita.
Kedua: Ketika sudah melewati semua rintangan atau kesulitan tidak lama berselang datang lagi kesulitan yang lain. Akibatnya orang jadi putus asa, lelah, dan menyerah. Ini juga menjadi kesempatan bagi setan untuk mendekat dan bersemangat menggoda kita. Jadi untuk mengatasi sikap santai dan putus asa, kita perlu memiliki satu kekuatan, yaitu berjalan terus dan tetap bersemangat.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah iman kami supaya dapat mengalahkan sikap santai dan putus asa di dalam diri kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

