Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Para orangtua di kampungku zaman dahulu, melarang kita menunjuk burung gagak, saat burung gagak terbang atau bersuara. Juga ketika burung gagak masuk kebun mengambil jagung muda. Alasannya, nanti dapat kutukan sehingga jari twlunjuk bengkok terlipat kaku mengarah ke telapak. Pesan utama larangan tersebut adalah jangan mengejek, mencemooh dan menghakimi hitamnya warna burung gagak.
Menarik mengingat pesan itu. Bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan melihat hitamnya pribadi lain dan membicarakan, menjelekkan serta mengadili. “Kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tidak dilihat dan disadsri.”. Atau ungkapan serupa yakni “selumbar di mata orang lain kelihatan, tetepi balok di depan mata tak tampak.” Ada semacam kenikmatan membicarakan kekurangan orang lain, bahkan bisa mengarang hal buruk tentang orang lain untuk dibicarakan, digosipkan dan disebarkan.
Zaman ini ada kemudahan sarana teknologi informasi. Maka, kecenderungan menjelekkan orang lain semakin gampang dilakukan melalui media informasi. Berita hoaks dan kasus yang menimpa seseorang, sangat viral dipublikasi. Apalagi, jika orang tersebut tidak disukai, atau jadi saingan bisnis, sosial dan politik. Ada kepentingan dari hoaks, caci maki dan oerbiatan mejelekkan orang lain; baik dengan komunikasi verbal langsung, maupun melalui media sosial zaman now.
Yang lebih heboh lagi, ialah demi berbagai alasan, pihak yang dijelekkan, digosipkan serta dicaci maki adalah tokoh agama, agama dan kepercayaan lain, bahkan Tuhan Allah pun jadi topik fitnah. Berbagai argumentasi dibangun agar kedengaran masuk akal, dengan dalih bahwa agama dan kepercayaan miliknya paling benar. Karena itu ada hak mutlak menjelekkan, memfitnah, dan menyerang pihak lain yang berbeda. Mengagetkan, bahwa sangat banyak orang yang menjadi pengikut serta penikmat konten tersebut. Teringat pesan kampung tadi, “jangan menunjuk dan menghakimi hitamnya burung gagak, nanti jari telunjuk bengkok”.

