RedJoss.com – Siapa bilang, orang yang sabar itu subur dan berkah? Jika kita tidak mau mengalah dan rendah hati, sehingga kita cenderung mengedepankan ego dan mau menangnya sendiri.
Kita tentu ingat, ketika orangtua mengajari kita untuk mengalah pada adik atau anak tetangga yang lebih kecil. Kita cenderung emosi dan tidak mau mengalah, karena berasa benar. Jikapun mau, hati ini dongkol. Tidak jarang, kita memberikan mainan itu dengan cara dilemparkan.
Ketika kita belajar mengalah, sejatinya orangtua mengajari kita agar tidak egoistis. Dengan mendahulukan kepentingan orang lain, kita menjadi pribadi yang sabar dan murah hati.
Sebaliknya, ketika mengedepankan emosi, hati kita menjadi tidak tenang, uring-uringan. Lebih parah lagi, emosi itu mampu melahirkan kebencian, iri hati, dan sifat mendendam.
Kita sering kali mempunyai anggapan yang keliru. Kita diminta mengalah seakan orangtua cenderung pilih kasih. Lebih mengasihi adik ketimbang kita.
Kenyataannya, maksud dan tujuan orangtua itu baik. Tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya hidup menderita atau celaka. Sayangnya, pikiran kanak-kanak tidak mampu mencernanya.
Lebih bijaksana jika orangtua mau menjelaskan maksudnya secara sederhana dan gamblang. Tidak menggunakan sanepo atau kata bersayap yang sulit untuk difahami.
Dengan belajar mengalah dan mendahulukan kepentingan orang lain, kita diajak untuk mengendalikan diri, sabar, dan rendah hati.
Ketika tidak sependapat atau sefaham, kita tidak mudah reaktif, tapi berpikir untuk mencerna perbedaan dengan bijaksana. Kita berdiskusi untuk mencari solusi, menyatukan persepsi, dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama.
Orang sabaran itu tidak grusa grusu, tapi bersikap tenang dalam segala situasi dan kondisi sulit. Wajahnya cerah, sorot matanya meneduhkan jiwa, dan optimistis dalam menjalani hidupnya
Orang sabar itu jiwanya subur, dan ikhlas itu membawa berkah. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

