“Kebahagiaan sejati mulai saat Allah dimuliakan dan kasih hidup dari hati”
Allah yang Maharahim, kami memandang Putra-Mu yang naik ke bukit dan duduk untuk mengajar. Matius dengan sengaja membawa kami kembali ke Gunung Sinai. Namun kini segalanya berbeda.
Musa naik ke gunung yang diselubungi awan dan ketakutan, menerima hukum dari kejauhan. Yesus justru duduk di tengah orang banyak, berbicara dengan kelembutan dan wibawa. Ia tidak menerima hukum. Ia memberikan sebagai Sabda yang hidup. Dalam diri-Nya, Engkau menyatakan diri sebagai Imanuel: Allah yang dekat, Allah yang dapat didekati.
Di awal Khotbah di Bukit, Yesus menyampaikan Sabda Bahagia. Ia mengajarkan arti kebahagiaan sejati. Bukan keberhasilan lahiriah, kekuasaan atau kenyamanan, melainkan hidup yang terarah kepada Allah.
Kata berbahagia menunjuk pada sukacita batin yang lahir dari hati yang hidup menurut Kerajaan-Mu. Yang miskin di hadapan Allah, yang lemah lembut, berbelas kasih, murni hatinya, dan membawa damai. Mereka inilah warga Kerajaan Surga.
Nabi Zefanya menyebut mereka sebagai sisa kaum yang rendah hati, yang mencari Tuhan, yang berlindung pada nama-Nya, dan hidup tanpa tipu daya. Mereka tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan berharap sepenuhnya kepada-Mu.
Mazmur menegaskan: Tuhan setia untuk selama-lamanya. Ia membela yang tertindas, memberi makan yang lapar, dan memerintah dengan keadilan dan kasih. Berbahagialah orang yang harapannya diletakkan pada Tuhan.
Tuhan Yesus, Engkau tidak menjanjikan jalan yang mudah. Engkau berbicara tentang pencobaan dan penganiayaan. Tapi Engkau juga menjanjikan penghiburan, sukacita, dan upah besar di Surga. Kerajaan yang Engkau tawarkan bukan kerajaan dunia, melainkan Sion surgawi tempat Allah meraja selamanya.
Bapa, bukalah akal budi kami agar kami memuliakan Engkau dalam kebenaran. Sucikanlah hati kami agar kami mengasihi tanpa kepura-puraan. Ajarlah kami melihat hidup
seperti Yesus melihatnya, supaya dalam segala keadaan kami tetap bersukacita, karena Sabda-Mu selalu “Ya” dan “Amin”.
Yesus, aku percaya kepada-Mu, kini dan selamanya. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

