Dalam dunia yang sering memuja kekuatan, kekayaan, dan pencitraan diri, Sabda Bahagia Yesus terasa begitu radikal. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah … berbahagialah orang yang lemah lembut …” (Mat. 5: 3-5).
Yesus mengundang kita untuk menempuh jalan yang berlawanan dari logika dunia. Ia tidak menawarkan popularitas atau kekuasaan, tapi hati yang bersih, sikap damai, dan keberanian untuk tetap hidup benar di tengah ketidakadilan.
Nabi Zefanya menegaskan, bahwa Tuhan menyisakan suatu umat yang rendah hati dan lemah (bdk. Zef. 3:12-13). Bukan mereka yang berteriak paling lantang atau punya posisi tinggi, melainkan yang hatinya terbuka dan setia mencari Tuhan.
Paulus juga mengingatkan Jemaat di Korintus, bahwa Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat, yang hina untuk meniadakan yang dianggap berarti (1 Kor. 1: 27-28). Kita diajak untuk tidak membanggakan diri, tapi membangun hidup yang berakar pada kasih dan kebenaran Allah.
Sabda Bahagia tidak hanya panggilan untuk hidup saleh secara pribadi, tapi juga dorongan untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan manusiawi. Kita dipanggil jadi “orang-orang yang membawa damai”, bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan juga lewat tindakan konkret: menolak korupsi, menghindari diskriminasi, merawat ciptaan, serta memperjuangkan yang tertindas.
Hidup bahagia menurut Injil berarti hidup yang memberi diri bagi sesama. Ketika kita berdiri bersama yang kecil dan tersingkir; kita memaafkan alih-alih membalas dendam; kita memilih kebenaran, meskipun itu tidak populer, karena di sanalah Kerajaan Allah hadir. Semoga kita menjadi bagian dari umat yang rendah hati dan tulus, yang membawa terang Kristus dalam dunia yang gelap.
“Ya, Tuhan, ajarilah kami untuk hidup sederhana dan setia dalam kasih-Mu agar kami layak disebut anak-anak-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

