“Every pain God has a purpose.” -Rio, Scj
Garam tidak pernah nakal, tapi selalu kena cubit. Cabai tak pernah ribut, tapi selalu kena tumbuk. Gula hanya diam saja, tapi dia selalu kena aduk. Kopi terasa pahit yang disalahkan gula, terlalu manis gula pula yang kena.
Realitas sederhana ini mengajarkan kita akan tiga hal.
Pertama: “Every pain Gos has a purpose” – setiap derita Tuhan mempunyai rencana. Derita, luka, dan kecewa itu selalu akan menghampiri. Tenang dan sabar saja. Luka itu sementara, derita itu pasti akan Tuhan ganti dengan sukacita. Kepahitan itu akan Tuhan ganti dengan senyuman. Air mata itu akan Tuhan ganti dengan tawa.
Kedua: Stop baperan, apa-apa dibawa perasaan. Nyata kok kita akan menjumpai pribadi yang senang mencari kesalahan. Kadang susah dicerna dengan logika. Diam jadi bahan gosip. Bicara jadi malapetaka. Lalu kita harus gimana? Gitu aja kok repot, tenang: bungkam dengan kebaikan. Buktikan dengan tindakan. Balas kebencian dengan senyuman yang memaafkan. Itu sudah cukup.
Ketiga: Sukacitalah dalam pengharapan. Hidup ini memang tidak semudah membalikan tangan. Meski sulit, meski berbeban berart, yakinlah esok matahari tetap akan terbit. Tak usah mengeluh, apalagi mencari pembenaran. Belajarlah dari garam, belajarlah dari cabai, dan belajarlah dari gula. Meski harus diperlakukan begitu, tetap memberi rasa, berdaya guna, dan tetap jadi berkat. Kadang diamnya kita dalam proses menginspirasi banyak orang untuk sukses. Mereka hanya takut mengutarakannya, realitanya banyak hal belajar dari kita yang sabar pada proses.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

