Santo Yohanes Bosco yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1815, mengalami hidup dalam zaman bertumbuhnya industri di Eropa, sebagai hasil langsung dari revolusi industri pada abat ke-19. Ia menemukan bagian lapisan masyarakat yang sangat terkena dampak ialah remaja dan orang-orang muda.
Mereka tidak bisa diandalkan untuk dunia industri. Orangtua mereka dan orang dewasa lain, bagi yang mampu akan mengikuti industri, tapi yang tidak mampu akan jatuh dalam kemiskinan. Orang muda terpaksa memenuhi jalan-jalan kota untuk menyambung hidup dengan berbagai aktivitas yang tidak berguna. Sering mereka jadi sasaran eksploitasi kekerasan dan kejahatan lainnya.
Pastor Yohanes Bosco jatuh kasihan dan rasa cinta kepada mereka. Ia mengumpulkan mereka untuk hidup di asrama dan menyediakan berbagai kegiatan pendidikan, pembinaan iman dan moral, serta ketrampilan kepada mereka. Tujuannya supaya mereka di kemudian hari jadi berguna bagi dirinya, keluarganya, Gereja dan masyarakat.
Bagi Santo Yohanes Bosco, setiap remaja dan orang muda adalah benih-benih unggul bagi Tuhan. Tidak ada satu pun dari orang muda ini dilahirkan jahat atau tidak baik. Karena sebagai benih, mereka harus diberikan kesempatan dan segala kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang. Sistem pendidikan Don Bosco sangat memperhatikan ini. Sistem ini bernama Sistem Pencegahan.
Seperti Don Bosco dan orang-orang muda zamannya, kita juga bagai benih sesawi dalam keadaan kita masing-masing. Biji sesawi karunia Tuhan kepada setiap orang itu unik, dan tak pernah sama untuk dua orang. Itu adalah kepribadian, pengalaman iman, dan panggilan suci setiap orang. Dengan keunikan ini, kita sebenarnya tidak boleh iri satu sama lain lantaran ada yang mempunyai kekhususan di satu sisi, di sini lain dipunyai orang lain. Yang penting adalah kita saling menghormati dan memerlukan.
Sikap lain yang juga tidak layak ialah ‘copy paste’ keunikan orang lain lalu keaslian diri sendiri hampir tidak tampak. Ini adalah kepalsuan yang serius. Orang tidak jadi orisinal, independen, dan percaya pada kemampuan sendiri. Sikap ‘copy paste’ ini hampir sama dengan mencuri. Sedangkan manja dan selalu bergantung adalah sikap menempel saja. Hal ini merupakan kemunduran seorang murid Tuhan Yesus yang baik. Dengan menghindari sikap-sikap yang kurang atau negatif itu, seseorang itu menemukan dirinya dan mempunyai kekuatan untuk tumbuh. Ia pantas sebagai murid yang diutus oleh Yesus Kristus.
“Ya, Bapa yang bijaksana, kuatkanlah iman kami supaya tetap jadi murid-murid Yesus Kristus yang sejati. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

