Mulianya Sikap Berintegritas
Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hitam adalah hitam dan putih pun adalah putih. Selain itu, tidak!”
(Didaktika Hidup Sejati)
- Kepalsuan pun tidak akan pernah menang, jika melawan sebuah kebenaran sejati!
- Karena apa pun yang tersembunyi, kelak akan terkuak juga!
- Maka, sungguh betapa pentingnya sikap “kejujuran dan berintegritas itu!”
Kisah Penebang Kayu yang Jujur
Ada seorang Penebang kayu yang sangat jujur, secara tidak sengaja ia menjatuhkan “kapak besinya” ke dalam sungai yang dalam.
Ia meratapi kehilangan satu- satunya, sarana hidupnya itu. Tapi betapa ia beruntung, karena di saat itu, ada seorang Dewa sungai yang mendengar tangisan pilunya.
Muncullah Dewa sungai itu sambil memperlihatkan sebuah ‘kapak emas.’ “Apakah ini kapak milikmu?” “Bukan.” Jawab Penebang kayu itu.
Dewa itu kembali menyelam dan membawa sebuah ‘kapak perak.’ Penebang kayu itu sekali lagi menolak, “Bukan, itu bukan milikku!”
Untuk ketiga kalinya Dewa Sungai itu menyelam dan akhirnya, membawa sebuah ‘kapak besi tua’ miliknya. “Ya! Itu milikku!” Sahut Penebang kayu itu.
Inilah Puncak “Sikap Kejujuran dan Integritas Sejati!”
Karena terkesannya dengan sikap kejujuran dan integritas dari Penebang kayu itu, maka Dewa Sungai itu pun menghadiahkan “Ketiga buah kapak” itu kepada si Penebang kayu itu!
(The Golden Axe)
(Jataka Tales)
Mari Kita Menimba Amanat Filosofis dari Kisah ini!
- Sikap kejujuran itu adalah kebijaksanaan yang terbaik di dalam kehidupan manusia. (Honesty is the best policy).
- Mempertahankan sikap berintegritas, meskipun dalam kekurangan dan ketiadaan, dengan tetap melakukan hal yang benar, bahkan di saat orang tidak melihatnya, adalah sebuah keluhuran sejati.
- Itulah sikap konsistensi moral: karena integritas itu adalah konsistensi antara nilai-nilai yang dianut yang sanggup diwujudkan dalam tindakan nyata. Itulah sebuah ekspresi dari karakter kesejatian.
Bagaimanakah Praktik tentang Kejujuran dan Sikap Berintegritas di dalam Kehidupan Kita?
- Sudahkah kita bersikap jujur dan berintegritas dalam hidup bernegara, berbangsa, serta bermasyarakat dalam tubuh bangsa kita?
- Sudahkah para Pemimpin kita memberikan suri teladan handal, dalam aspek kejujuran dan sikap berintegritas?
- Sudahkan para Orangtua, Guru, serta Agamawan mempraktikan hidup jujur dan sikap berintegritas dalam hidup mereka?
- Ataukah kehancuran sikap moral ini, justru lahir dan bertumbuh subur justru dari keluarga, lembaga sekolah, serta lembaga keagamaan?
- Jika memang sudah demikian adanya, maka sejatinya, kita ini hanya badut-badut jalanan yang kurang kerjaan.
Refleksi
“Omnis Homo Mendax”
(Semua Manusia adalah Pembohong)
(Mazmur 115: 11)
“Longum Iter est per Praecepta, Breve et Efficax Exempla”
(Melalui Perintah Jalanya Panjang, Melalui Teladan Jalanya Pendek dan Berdaya guna).
(Seneca)
Kediri, 30 Januari 2026

