“Sesama suatu saat akan pergi, tapi Tuhan setia mendampingi.” -Rio, Scj
Ada benarnya orang diam itu sudah selesai dengan dirinya. Ia tidak butuh pengakuan atau validasi, karena ia sudah berdamai dengan rasa sakitnya. Tapi sekarang muncul fenomena baru yang secara psikologis disebut ‘duck sindrome’. Seperti seekor bebek berenang, terlihat tenang, namun nyatanya kaki bebek terus bergerak untuk memastikan badannya tetap mengapung.
Itulah kenapa sekarang jumlah kaum muda bunuh diri terus naik. Para pelaku terlihat tenang, baik-baik saja, sepertinya tidak ada masalah. Tapi nyatanya yang terlihat tenang, diam itu ternyata sedang ‘struglling’ luar biasa. Mereka banyak teman, tapi di media sosial. Mereka butuh sosok terpercaya untuk jadi pendengar, tapi sibuk dengan gagdet masing-masing. Mereka butuh dikuatkan dengan sentuhan, tapi yang didapat hanya semu. Banyak followers tapi tidak nyata. Banyak ‘like’, tapi sementara. Sebentar bahagia, tersenyum, dan tertawa, kemudian berlinang air mata.
Bukan hanya generasi Z dan Alfa, tapi kalangan tua juga mengalaminya. Nyatanya dalam hidup ini masalah selalu ada, tantangan selalu datang, luka dan derita selalu ada. Tidak ada yang bisa lari atau menghindar. Karena roda kehidupan selalu berputar. Kadang berada di atas, di tengah, bahkan kadang di bawah sarat dengan luka, gagal, dan derita.
Ingatlah satu hal teman, kita masih mempunyai Tuhan. Bukan kita yang mempunyai kehidupan, tapi Dialah atas hak penuh hidup kita. Jangan mengambil yang bukan hak kita! Itu dosa. Bila saat ini banyak sahabat lari dan meninggalkan kita masih mempunyai Tuhan. Kalau sat ini masalah terlalu berat untuk dijalani ada Tuhan yang setia menemani. Bukan hanya menemani, tapi mengganti mengangkat beban kita. Jika semua mustahil jadi nyata, kita mempunyai Tuhan yang mampu membuat mukjizat itu nyata. Renungkan satu kalimat ini: “Angkat tangan, pasti Tuhan turun tangan.”
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

