“Orang yang mudah menyalahkan sesamanya adalah mereka yang lupa dengan dirinya sendiri.” -Mas Redjo
Ketimbang menyalahkan orang lain, lebih baik kita saling mengingatkan. Kita jadi bijak, jika hidup ini sebagai ungkapan teladan kebaikan dan rendah hati.
Faktanya, berjuta orang mudah diguncang dan ditaklukkan ‘flexing’, sehingga tidak berkutik dan keok.
Viralisasi juga jadi jalan pintas dan impian setiap orang yang ingin cepat terkenal, populer, dan kaya. Tanpa harus berproses, tapi dengan menabrak aturan dan hukum.
Coba buka hati dan amati realita di sekitar kita. Bisa jadi ada seorang anggota keluarga, atau bahkan kita sendiri yang dijangkiti penyakit pamer dan viralisasi.
Lho?! Tidak harus kaget, melotot, dan apalagi marah.
Kita tidak harus menyalahkan sikon, perubahan zaman, atau orang lain. Karena tiada guna. Ketimbang kita makin memperburuk keadaan dan menggelapkan hati sendiri, lebih bijak kita memperbaiki keadaan itu untuk jadi penerang jiwa.
Tidak ada kata terlambat untuk sadar diri dan jadi baik!
Dimulai dari keluarga kita sendiri, yaitu dengan menghidupi budaya ‘sapa aruh’, karena peduli dan mengasihi.
Misalnya, anak asyik bermain hp hingga lupa waktu belajar. Anak itu diberi pengertian, atau sejak awal dibelikan hp, diminta berjanji untuk mengelola waktu, baik untuk belajar, membantu orangtua, dan seterusnya. Anak juga diberi konsekuensinya, jika melanggar janji itu supaya anak komitmen, disiplin, dan bertanggung jawab.
Dengan mendisiplinkan kebiasaan ‘sapa aruh’, karena peduli dan mengasihi dalam keluarga untuk saling mengingatkan satu dengan yang lain agar kita tidak kebablasan, tapi tetap sadar diri.
Saling mengingatkan, karena kita peduli dan mengasihi!
Mas Redjo

