Orang-orang beriman berkeyakinan, bahwa Tuhan ada. Tuhan juga bekerja untuk melindungi, memelihara, dan menyelamatkan umat manusia. Bukti, bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa bekerja untuk kita itu tidak diragukan lagi, yaitu di dalam Kitab Suci dengan semua narasi dan penjelasannya. Orang-orang beriman perlu selalu membaca dan merenungkan Kitab Suci agar mereka semakin beriman, bahwa Tuhan ada dan tetap bekerja.
Pengakuan, bahwa Tuhan ada, selain melalui membaca dan mendengar firman Tuhan, ada banyak cara lain yang dipakai oleh orang-orang beriman. Salah satunya ialah dengan hidup di dalam sukacita. Meskipun kita tidak luput dari dosa dan penderitaan hidup, sukacita itu selalu jadi kekuatan yang sangat kita perlukan. Kita diajarkan untuk memperkuat dan menambah sukacita kita. Mengapa?
Faktanya, sering sukacita itu cepat berlalu pergi, terbang bersama angin, hilang ditelan musim. Bila pekerjaan dan kesibukan menumpuk, sukacita itu hilang. Bila jatuh sakit dan menemukan kesulitan, sukacita itu menjauh dari kita. Bila tersaingi dalam mengejar rezeki, prestasi, dan kemajuan sukacita itu seperti susah dihadirkan. Bila datang kegagalan, sukacita itu menghilang entah ke mana perginya.
Daud memasuki kota suci, dan bersama seluruh umat membawa masuk tabut Tuhan. Sambutan gembira Daud dan rakyatnya itu luar biasa. Semua unsur dan elemen untuk pesta raya lengkap. Sukacita mereka penuh. Karena Tuhan ada bersama mereka.
Yesus Kristus meyakinkan kita, bahwa Ia bersama dengan kita. Firman yang Ia sampaikan itu masuk ke dalam diri setiap orang yang mendengarnya. Ketika dilaksanakan di dalam hidup ini, sukacita itu tumbuh sehat dan berkembang di dalam mereka.
Firman itu adalah pribadi Tuhan sendiri, demikian kata Penginjil Yohanes. Dia masuk dan tinggal di dalam kita, lalu merangkul dan menyatukan kita semua sebagai saudara dan saudari di dalam Yesus Kristus. Di sini letak sukacita yang besar, karena semua bersatu sebagai satu umat. Sebaliknya perpecahan, terkotak-kotak, dan klaim, bahwa kelompok yang satu lebih baik dan istimewa daripada kelompok lain, itu kehilangan nilai sukacitanya.
Satu pengalaman yang selalu memperkuat sukacita kita ialah Ekaristi. Kita menerima Firman melalui bacaan dan renungan, yang memuncak dalam Komuni Kudus di mana Firman itu jadi daging untuk santapan kita. Pada saat itu sukacita kita jadi penuh. Jadi kalau ingin memenuhi diri dengan sukacita Tuhan, kita datang ke Ekaristi. Tidak ada cara yang lain.
“Ya, Bapa yang Maha Murah, semoga kami diberkati sukacita yang penuh dengan selalu merayakan Ekaristi di dalam Gereja-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

