“Jadi Keluarga Yesus berarti Melakukan Kehendak Bapa.”
Yesus menyatakan kepada kami arti sejati menjadi milik-Nya. “Barangsiapa melakukan kehendak-Mu, dialah Ibu, saudara laki-laki, dan saudara perempuan-Nya.”
Perkataan ini bukan merendahkan Maria, melainkan menyingkapkan kebesarannya. Sebelum mengandung Yesus dalam rahimnya, ia lebih dahulu menerima kehendak-Nya dalam hatinya. Ia mendengarkan, percaya, dan taat.
Melalui Yesus, kami pun diundang masuk ke dalam keluarga ini. Bukan karena hubungan darah, melainkan karena iman dan ketaatan.
Seperti Daud yang menari dengan penuh sukacita di hadapan tabut Tuhan, kami diajak menyembah-Nya dengan hati yang bebas dan tulus.
Bersama Pemazmur kami berseru: “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu, supaya Raja Kemuliaan masuk.” Masuk ke kota—dan masuk ke hati kami.
Bapa, sering kali kami terbiasa dengan rutinitas rohani. Kami mendengar sabda-Mu, namun lupa sungguh-sungguh mendengarkan. Hari ini Yesus memanggil kami kembali ke kaki-Nya, untuk membuka hati dan bertanya lagi: “Apa kehendak-Mu bagiku hari ini?”
Engkau menghendaki iman kami hidup dan tumbuh dalam kebersamaan. Yesus membentuk keluarga, bukan sekadar kumpulan orang. Ampuni, saat kami gagal saling mengasihi. Ajarlah kami rendah hati, sabar, dan setia satu sama lain.
Bentuklah hidup kami, ya Tuhan, agar bukan hanya kata-kata, tapi juga tindakan kami menyatakan, bahwa Yesus adalah Sang Raja Kemuliaan.
Dengan kuasa Roh Kudus, tolonglah kami melakukan kehendak Bapa dengan sukacita dan kasih.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

