Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika Anda tulus melakukan hal-hal yang terkecil, sesunguhnya, Anda pun telah melakukan hal-hal yang lebih besar.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Melakukan Hal Kecil
Dunia kita kini, sungguh-sungguh membutuhkan pribadi-pribadi hebat yang dengan tulus sanggup untuk melakukan hal-hal yang terkecil di sekitar kita. Itulah sosok pribadi nan agung yang sudah sangat sulit dijumpai di atas bumi kita ini.
Sebuah Acungan Jempol
Seorang Pemuda sederhana sedang melintasi sebuah jalan setapak. Di hadapannya terbentang secabang ranting dari dahan pohon yang patah. Dengan spontan Pemuda itu mengangkatnya, lalu memindahkannya di pinggir jalan setapak itu.
Tina-tiba terdengar sebuah sapaan lembut dari seorang Tua yang sedang berdiri mematung di belakangnya.
Tatkala ia menoleh, dilihatnya seorang Pria Tua yang terpaku menatap tajam pada matanya sambil menaikkan jempolnya, sebagai isyarat bahasa tubuh (gesture / body language), yang menyimbolkan sebuah pujian atau penghornatan.
“Hai, anak muda hebat, siapakah yang telah menyuruhmu untuk menyingkirkan sebatang ranting kayu itu ke pinggir jalan setapak ini? Mengapa, tidak kau buang ke dalam sungai itu?”
Sahut si Pemuda hebat itu, “Tuan, tak seorang pun yang menyuruhku. Itu inisiatif murni dari diriku, agar setiap orang yang akan melintasi jalan setapak ini, tidak terhalang langkahnya. Aku juga tidak sudi untuk membuangnya ke dalam sungai itu, karena bukankah, kita tidak boleh mencemari air sungai?”
Mendengar sahutan Pemuda itu, maka tampak berkaca-kaca bola mata Pria Tua nan bijak itu.
Sambil membungkukkan tubuh ringkihnya ke arah Pemuda itu, Pria Tua berbisik lembut, “Engkaulah, pribadi agung dan sosok figur mulia di negeri yang seolah-olah sudah tak bertuan ini.”
Lalu keduanya bersama berlangkah seiring sejalan, searah dan setujuan.
Sementara itu, angin sepoi-sepoi basah berhembus lembut memanja seolah turut mengiringi ayunan lelangkah kaki-kaki dari kedua lelaki tulus itu.
(Dari Aneka Sumber)
Akar Budaya yang Sirna
Bangsa kita ini sudah sangat dikenal sebagai bangsa yang suka bergotong royong. Bahkan dengan sikap sigap dan spontan, kita akan segera turun tangan untuk berbakti bersama.
Namun sejujurnya, lambat laun budaya khas itu sudah kian luntur dan bahkan telah sirna entah ke mana dan mengapa. Itulah sebuah kenyataan yang perlu dipertanyakan.
Sesuai dengan pengalaman saya, bahkan murid-murid di sekolah akan merasa malu dan bahkan tersiksa, jika diminta oleh Gurunya untuk memungut sampah atau menggotong tempat sampah. Jadi, yang terjadi kini, betapa bergengsinya anak-anak didik kita selaku calon anggota masyarakat kelak. Jika dianalisis mendalam, kita dapat bertanya, “Dari mana datangnya budaya bergengsi itu?”
Kita telah Kehilangan Jati Diri Sejati
Ketika jati diri anak bangsa ini sirna, bukankah itu sebagai isyarat sirnanya budaya gotong royong sebagai warisan budaya bangsa? Hal ini mengisyaratkan, bahwa sesungguhnya sebagai sebuah bangsa beradab, kita telah kehilangan jati diri.
Kini, siapakah di kalangan kita yang masih mau perduli akan kondisi atau kekacauan di dalam tubuh bangsa kita? Bukankah semua pihak akan merasa nyaman dan aman dengan cara ‘mencuci tangan?’
Maka, hendaklah kita bersama-sama segera dimulai dari dalam keluarga untuk menumbuhkan kembali sikap kepekaan dan spirit bergotong royong serta kebersamaan itu?
Non Scholae Discimus sed Vitae
Sesungguhnya tujuan kita bersekolah bukan untuk sekolah, namun untuk kesejahteraan di dalam arena kehidupan nyata. Jadi, sejatinya “kita belajar untuk hidup.”
Refleksi
- Maka, jawaban finalnya ialah “hendaknya kita bercita-cita agar mampu jadi seorang manusia yang bersikap: tulus, jujur, sederhana, rendah hati, dan bukan sebagai makhluk robot.
- Sedangkan figur si Pria Tua nan ringkih itu adalah gambaran atau sebuah citra ideal dari bagaimana jadi seorang manusia dewasa sejati dan bertanggung jawab.
“Homo Faber”
“Manusia itu adalah makhluk yang bekerja”
(Max Frisch)
Kediri, 26 Januari 2026

